Kacang - Kacangan

dari

 Nubuatan Jehezkiel pasal 4

 

 

 

 

“Setiap n a b i dari Wasiat Lama lebih sedikit berbicara bagi zamannya sendiri daripada bagi zaman kita, sehingga ucapan n u b u a t a n  mereka itu benar-benar berlaku bagi kita.” – 3 Selected Messages, p. 388.

 

 

 

N

abi Jehezkiel berasal dari kerajaan Jehuda. Dari buku Jehezkiel 1 : 1 – 3  dapatlah diketahui bahwa ia pertama sekali menulis bukunya itu sewaktu ia bersama-sama dengan raja Jojachin berada dalam tawanan dari kerajaan Babilon. Kerajaan Jehuda dari dua suku bangsa itu dikalahkan oleh Babilon pada tahun 587 s. Tarich Masehi. Sementara itu kerajaan Israel dari sepuluh suku sudah lebih dulu dikalahkan oleh kerajaan Assyria pada tahun 721 s. Tarich Masehi, dan kemudian daripada itu mereka telah tercerai-berai ke seluruh dunia sampai kepada hari ini.  Oleh sebab itu, sebagaimana halnya dengan nubuatan-nubuatan Jehezkiel yang lainnya, maka nubuatan Jehezkiel pasal 4 inipun baharu akan terungkap pengertiannya di akhir zaman, di antara dua belas suku bangsa Israel dan Jehuda contoh saingannya, yaitu umat Masehi Advent Hari Ketujuh. Melalui hamba-Nya Tuhan Allah mengingatkan :

 

          “Ketahuilah dahulu ini, bahwa tidak ada nubuatan dari Alkitab yang berasal dari sesuatu interpretasi pikiran sendiri, sebab nubuatan itu datang di masa lalu bukan oleh kehendak manusia, melainkan orang-orang suci milik Allah yang telah berbicara sementara mereka itu digerakkan oleh Roh Suci.” – 2 Petrus 1 : 20, 21.

 

          Karena nubuatan-nubuatan itu telah diucapkan dalam bahasa-bahasa simbolis yang sangat rahasia, maka tak dapat tiada di bawah kendali dari Roh Suci yang sama itu juga sekaliannya itu baru akan diungkapkan kepada kita di akhir zaman ini. Nabi Amos mengatakan : Sesungguhnya Tuhan Allah tidak akan berbuat apapun sebelum diungkapkan-Nya  r a h a s i a – N y a  kepada para hamba-Nya, yaitu n a b i – n a b i.” -- Amos 3 : 7.

 

          Tuhan Allah akan lebih dulu mengungkapkan rahasia dari semua nubuatan Alkitab yang ada kepada para hamba-Nya, Nyonya Ellen G. White dan Sdr. Victor T. Houteff, untuk dibukukan di dalam ROH NUBUATAN. Baharu kemudian di bawah kendali dari Roh Suci yang sama itu juga sekaliannya itu akan dimantapkan ke dalam pengertian kita. Baharu genaplah ucapan Yahya Pewahyu yang mengatakan: “Berbahagialah  d i a  yang membaca  dan mereka yang  m e n d e n g a r  s e m u a  p e r k a t a - a n  dari n u b u a t a n  ini…..” – Wahyu 1 : 3.

 

          Oleh sebab itu, maka hendaklah selalu diingat bahwa tidak akan ada satu nubuatanpun yang dapat terungkap pengertiannya dengan benar dan memuaskan di luar ROH NUBUATAN. 

       

          Ucapan nubuatan dari Jehezkiel pasal 4 itu benar-benar  berlaku bagi kita, maka apa yang dimaksud dengan kacang-kacangan itu tak dapat tiada harus diketahui dan dimengerti oleh semua umat Masehi Advent Hari Ketujuh, khususnya k i t a yang masih hidup di akhir dunia sekarang ini.  Untuk itu ikutilah di bawah ini :

 

  Pembahasan Jehezkiel 4 : 4 – 6, 9 – 11

 

          “Hendaklah engkau berbaring juga pada sisi kirimu dan bubuhlah padanya kesalahan isi rumah Israel; sesuai dengan bilangan hari engkau berbaring pada sisimu itu engkau akan menanggung kesalahan mereka itu. Karena sudah kupikulkan atasmu tahun-tahun kesalahan mereka itu, sesuai dengan bilangan segala hari itu, yaitu 390 hari lamanya; demikianlah kamu akan menanggung kesalahan isi rumah Israel. Dan setelah sudah kamu menggenapi segala hari itu, maka pada kedua kalinya hendaklah kamu berbaring pada sisi kananmu, maka  kamu akan menanggung kesalahan isi rumah Jehuda empat puluh hari lamanya; tiap-tiap setahun sudah ku jadikan bagimu akan sehari. Dan lagi hendaklah diambil olehmu akan gandum, dan syeir, dan kacang, dan miju, dan sekui, dan cawak, masukkanlah dia ke dalam sebuah bejana dan buatkanlah roti daripadanya akan dirimu; maka selama bilangan segala hari engkau berbaring pada sisimu yang satu itu, 390 hari lamanya, hendaklah engkau makan dia. Maka makanan yang akan kau  makan itu hendaklah  beratnya diukur, yaitu dua puluh syikal sehari, dan hendaklah engkau makan dia tiap-tiap waktu sedikit. Dan lagi airpun hendaklah kau minum dengan takarannya, yaitu seperenam hin, tiap-tiap waktu sedikit. – Jehezkiel 4 : 4  -  6, 9 – 11.

   

         Nabi Jehezkiel dalam nubuatan ini telah ditunjuk mewakili umat Allah di akhir zaman. Karena satu hari dalam nubuatan sama dengan satu tahun yang sebenarnya, maka nabi Jehezkiel pertama sekali mewakili umat Israel (sepuluh suku bangsa) selama 390 tahun, baharu kemudian mewakili umat Jehuda (dua suku bangsa) selama 40 tahun. Dalam nubuatan ini nabi Jehezkiel telah diperintahkan untuk berbaring pada sisi kirinya selama  390 tahun. Selama itu ia diharuskan makan dan minum.  Sesudah berakhir 390 tahun itu, maka ia harus berbalik pada sisi kanannya lalu berbaring lagi selama 40 tahun. Tetapi selama 40 tahun terakhir ini ia tidak diperkenankan memakan apapun juga. Makanan yang dimaksud dalam nubuatan ini tak dapat tiada adalah makanan rohani saja, yaitu pokok-pokok pekabaran dari Alkitab. Oleh sebab itu kita akan menemukan bagaimana makanan-makanan itu telah berkembang dari waktu ke waktu selama 390 tahun semenjak dari zaman Luther sampai kepada tahun 1890 yang lalu. Mengapa dihitung semenjak dari zaman Luther ?

 

          Perlu diketahui bahwa Martin Luther telah muncul ke atas pentas sejarah dunia sebagai Bapa Reformasi Protestan, setelah agama Kristen dikapirkan oleh penguasa Gereja Roma Katholik, dan setelah Alkitab dinyatakan sebagai buku terlarang, lalu dilenyapkan dari peredarannya  selama kurang lebih seribu tahun dalam sejarah yang lalu. Jadi,  Martin Luther merupakan orang yang pertama sekali menggali kembali isi dari Alkitab itu bagi kita.

 

          Masa 390 tahun itu dimulai sejak Luther menemukan sebuah Alkitab dalam tahun 1500, yang telah dijadikannya sebagai landasan bagi perjuangan pergerakan reformasinya yang mula-mula. Dengan demikian, maka masa 390 tahun itu akan berakhir pada tahun 1890, yaitu setelah malaikat sidang jemaat Laodikea atau General Conference of SDA sepenuhnya menolak pekabaran “Pembenaran Oleh Iman” dari pendeta-pendeta Waggoner dan Jones.

 

          Martin Luther memulai pergerakan reformasinya dengan pokok pekabaran Alkitabnya yang terkenal : “Orang Benar Hidup Oleh Iman”  atau “Pembenaran Oleh Iman.” Ia lahir di kota Eisleben, Saxony, Jerman pada 10 Nopember 1483 dan meninggal dunia di kota yang sama pada 18 Pebruari 1546. Makanan rohani yang telah disediakannya sejak mulanya telah dilambangkan dalam nubuatan Jehezkiel pasal 4 ini dengan jenis kacang yang pertama, yaitu   g a n d u m. Ada enam jenis kacang-kacangan yang melambangkan enam macam makanan rohani, yaitu : gandum, syeir, kacang, miju, sekui, dan cawak. Tuhan Allah telah memerintahkan  kepada  Jehezkiel agar ia memasukkan semua biji-bijian itu ke dalam sebuah bejana, lalu membakarnya menjadi sesuatu kue, lalu memakannya pada sesuatu waktu, dengan cara tertentu, dengan suatu takaran air yang tetap ukurannya. Demikianlah yang difirmankan Tuhan kepadanya yang berbunyi : “Maka makanan yang akan kau makan itu hendaklah  beratnya diukur, yaitu dua puluh syikal sehari, dan hendaklah engkau makan dia tiap-tiap waktu sedikit. Dan lagi airpun hendaklah kau minum dengan takarannya, yaitu seperenam hin, tiap-tiap waktu sedikit.“ —  ayat 10 – 11.

 

Artinya,  karena pokok-pokok pekabaran Alkitab yang dilambangkan oleh kacang-kacangan itu terus berkembang selama 390 tahun semenjak dari Luther, maka umat Allah yang diwakili oleh nabi Jehezkiel selama itu wajib memakannya dengan terukur, tiap-tiap waktu sedikit. Dan airnyapun supaya diminum sesuai takarannya setiap waktu sedikit.

 

Gandum, Lambang dari I m a n

 

          Bagian pertama dari makanan rohani atau pokok pekabaran yang pertama dari Alkitab yang akan kita temukan,  dan yang dilambangkan oleh g a n d u m  ialah “I m a n“. Inilah  i m a n  yang diajarkan pertama sekali oleh Luther dalam pokok pekabarannya : “Orang benar hidup oleh Iman.” Gandum yang melambangkan pekabaran yang diberikan Luther kepada kita itu harus sempurna isinya untuk membuat suatu lambang yang sempurna dari pekabaran itu. Perhatikanlah pada pekabaran perihal gandum itu sebagai berikut : Gandum selalu digunakan oleh semua generasi manusia, dan setiap orang menggunakannya, maka sukar sekali hidup tanpa gandum. Demikian pula halnya, bahwa semua orang harus memiliki pekabaran perihal  “I m a n“. Alkitab mengajarkan bahwa ‘Tanpa iman, maka tidaklah mungkin untuk berkenan kepada – Nya.’ Bukan hanya umat Kristen, melainkan juga agama-agama lain harus memiliki iman, sama seperti halnya mereka harus memiliki gandum. Bahkan orang kapir dan orang-orang yang tidak ber-Tuhan-pun harus melaksanakan iman dalam cara apapun yang dipercayainya. Dapatlah kita saksikan bahwa Ilham telah menggunakan jenis lambang yang tepat untuk menunjukkan pekabaran perihal “I m a n“ itu bagi kita.

 

S y e i r, Lambang dari ROH SUCI

 

          Bagian makanan yang kedua, yaitu pekabaran yang berikutnya dilambangkan oleh syeir. John Knox adalah orang yang kedua yang telah membuat langkah maju kedua oleh mempromosikan pekabaran yang dilambangkan oleh syeir, yaitu kebenaran perihal “Roh Suci.”  Syeir adalah tidak biasa atau tidak banyak digunakan orang seperti halnya dengan gandum. Pada kenyataannya hanya sedikit orang yang menggunakannya, maka itulah sebabnya jarang sekali iaitu ditemukan. Banyak orang tidak tahu apa sebenarnya syeir itu. Demikian pula halnya dengan pekabaran perihal Roh Suci. Sementara pokok pekabaran perihal Roh Suci dipercayai oleh sebagian orang Kristen, ini tidak banyak diyakini oleh orang-orang lainnya. Ada banyak sekali orang yang belum mengerti akan kebenaran perihal Roh Suci itu, sama seperti halnya banyak orang tidak tahu apa sebenarnya syeir itu. Oleh sebab itu simbol yang melambangkan pokok pekabaran yang kedua ini adalah tepat, sama seperti juga yang pertama. Pengalaman Gideon dengan mimpinya orang Midian tentang kue syeir yang  membalikkan perkemahan mereka itu membuktikan hal yang sama. Bacalah Hakim-Hakim 7 : 13, 14.

 

Kacang, lambang dari Karunia

 

          Kacang adalah sama seperti gandum biasa, dan dimana-mana digunakan orang sepanjang semua generasi manusia. John Wesley, adalah orang ketiga yang telah bergerak sebagai seorang reformator yang  besar menciptakan langkah maju yang ketiga, oleh mempromosikan pekabaran perihal “Karunia”, yang dilambangkan oleh kacang. Semua orang percaya pada k a r u n i a, yang karena sedemikian rupa percayanya, sehingga manusia tidak lagi takut akan Allah, lalu mereka menyatakan bahwa hukum-Nya sudah tidak berlaku lagi. Ia adalah sangat pemurah, dan sangat pengampun, demikian kata mereka, dan karena kita berada di bawah karunia, maka Allah tidak akan berbuat yang baik maupun yang jahat. Demikianlah orang-orang Kristen di zaman ini telah memutar-balikkan artinya yang sebenarnya.

 

Miju, lambang dari Baptisan secara diselamkan

 

          Miju digunakan untuk melambangkan pekabaran Alkitab yang keempat. Alexander Campbell adalah orang yang telah melakukan langkah maju yang keempat oleh mempromosikan pekabaran perihal baptisan secara diselamkan, yang dilambangkan oleh miju itu. Jenis miju yang melambangkan pokok pekabaran yang keempat (baptisan secara diselamkan) adalah tidak dikenal atau digunakan sama seperti halnya syeir. Demikian pula halnya dengan pekabaran perihal baptisan secara diselamkan itu. Baptisan secara diselamkan menurut metode yang dahulu  tidak dipraktikkan secara umum, sama seperti juga halnya dengan miju yang tidak digunakan secara umum. Sekalipun demikian Tuhan Allah telah menggunakan lambang ini secara tepat untuk menunjukkan bagian pekabaran ini.

 

Sekui, lambang dari 2300 hari itu

   

          Bagian pekabaran yang kelima dilambangkan oleh sekui, dan reformatornya ialah William Miller. Ia telah mengungkapkan  nubuatan Daniel 8 : 14 itu, yaitu pekabaran perihal 2300 hari atau tahun. Sekui jarang sekali diketahui orang, dan mereka yang mengenalnya mengatakan bahwa iaitu tidak bernilai apa-apa, hanya suatu rumput liar yang hampir-hampir tidak bernilai sama sekali untuk ditanam. Tetapi bagaimanapun juga iaitu adalah biji-bijian yang baik. Demikian itu pula halnya dengan pekabaran yang dibawakan oleh Miller itu. Tidak seorangpun memerlukannya, namun Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah satu-satunya yang telah mengajarkannya. Orang-orang yang tidak mau menyambut pekabaran ini mengatakan, bahwa iaitu tidak ada gunanya, sehingga mereka telah menuduh Miller sebagai nabi palsu. Sekalipun demikian iaitu merupakan sebuah nubuatan yang indah yang telah  mengungkapkan sesuatu kebenaran yang besar, tetapi banyak orang tidak mau menerimanya. “Itu adalah tidak berguna, tanpa memiliki nilai kerohanian apapun, maka kami tidak memerlukannya,” demikian seruan orang. Bahkan ada yang bertanya, dapatkah ditemukan sesuatu simbol yang lebih baik lagi daripada sekui untuk melambangkan pekabaran perihal 2300 itu ?

 

C a w a k, lambang dari S a b a t

dalam kaitannya dengan kaabah kesucian

 

         Biji-bijian terakhir yang disebut di dalam nubuaan Jehezkiel ialah cawak, yang melambangkan pekabaran yang keenam, yaitu kebenaran perihal Sabat dalam kaitannya dengan kaabah kesucian, sebagaimana yang telah diberikan Tuhan kepada hamba-Nya Nyonya Ellen G. White. Definisi dari cawak menurut Standard Dictionary adalah sebagai berikut : “Suatu jenis biji-bijian yang tingkatnya di antara gandum dan syeir. ….. Itu merupakan biji-bijian penting dari zaman Mesir kuno, yang mungkin merupakan gandum hitam di zaman Musa, tetapi dipelihara kini terutama di Swiss, Jerman Selatan, dan Spanyol sebelah utara.”

 

         Cawak adalah suatu jenis biji-bijian dari zaman dahulu, yang digunakan di Mesir kuno di zaman Musa, dan itu adalah gandum hitam di zaman Jusuf. Demikian pula halnya dengan Sabat sebagai suatu kebenaran sejak dari zaman dahulu yang berasal dari Taman Eden, dan merupakan peraturan perundang-undangan yang terakhir dicatat pada saat Kejadian Dunia. Itulah kebenaran di zaman Musa, yang telah melembagakan pemeliharaan Sabat itu.

 

          Cawak sedikit lebih dikenal daripada sekui, dan memiliki sesuatu nilai tanaman, tetapi hanya di bagian-bagian dunia tertentu, sama seperti halnya Sabat lebih dikenal daripada 2300 hari itu. Beranikah seseorang mengatakan, bahwa sekaliannya itu bukanlah lambang yang tepat, atau bahwa iaitu hanya sesuatu interpretasi manusia yang kebetulan cocok ?

 

Pengertian perihal

Apam Syeir dari Jehezkiel 4 : 12

 

          Tuhan memberitahukan kepada Jehezkiel: “Hendaklah engkau makan dia sebagai  a p a m  s y e i r.” – Jehezkiel 4 : 12. Mengapakah gandum, kacang, miju, sekui, dan cawak dibuat menjadi apam syeir ?  Mengapa tidak menjadi apam gandum, atau apam dari sesuatu biji-bijian yang lain ? Kebenaran perihal Roh Suci telah dilambangkan oleh syeir. Karena alasan inilah, maka kepada nabi Jehezkiel telah diberitahukan supaya membuatnya menjadi apam syeir, artinya kebenaran yang datang oleh kuasa Roh Suci, dan bukan oleh bantuan manusia.

 

Pengertian perihal

 “Aku akan membubuh tali padamu”

Jehezkiel 4 : 8

 

Mengutip ayat 8, kita baca sebagai berikut : “Maka tengoklah, Aku akan membubuh tali padamu, supaya jangan engkau berbalik dari sisimu yang satu kepada sisimu yang lainnya sampai selesai engkau menggenapi segala hari pengepunganmu.”Jehezkiel 4 : 8.

 

          Nabi itu akan berbaring pada sisi kirinya 390 hari lamanya. Selama itu ia akan makan berbagai jenis makanan itu. Tetapi mengapakah pada sisi kirinya ? Mengapa tidak pada sisi kanannya ?  Sebab simbol ini tidak akan tepat kalau saja ia berbaring pada sisi kanannya sambil makan. Lambung manusia itu berbentuk seperti bulan sabit, dengan suatu leher yang sempit arah ke sebelah kanan sebagai jalan keluarnya. Jika seseorang berbaring pada sisi kirinya, maka jalan keluar lambungnya itu menghadap ke atas, berlawanan dengan gaya berat, sehingga akibatnya akan sukar bagi lambung untuk mengosongkan dirinya sendiri, yang mana akan membuat makanan akan tetap tinggal di dalamnya. Kalau bukan karena adanya tali-tali yang telah dibubuh Tuhan sekeliling Jehezkiel, maka ia sudah akan berbalik ke sisi kanannya, sehingga dengan demikian akan mengacaukan lambang ini. Artinya, sekalipun musuh yang besar itu mencoba mendesak  keluar setiap kebenaran dengan cara menimbulkan berbagai syakwasangka dan hasutan terhadapnya, serta memecat keluar orang-orang yang mempromosikan kebenaran-kebenaran baru ini seperti akan hal yang sama dalam setiap kesempatan di masa lalu, namun Tuhan Allah tetap mengawasinya agar setiap kebenaran itu akan tetap bertahan sampai Ia memasukkan sekaliannya itu ke dalam sebuah bejana.

 

“Hendaklah engkau minum juga a i r.”

Jehezkiel 4 : 11

 

Hendaklah engkau minum juga air dengan takarannya, yaitu seperenam hin, tiap-tiap waktu sedikit, hendaklah engkau  minum.”Jehezkiel 4 : 11

 

          Air apabila diminum akan memberikan kehidupan. Tanpa air, maka tidak mungkin ada yang dapat hidup di muka bumi ini. Kristus sewaktu berbicara kepada seorang wanita di tepi sumur telah berfirman sebagai berikut : “Tetapi air yang Kuberikan kepadanya itu di dalam dirinya akan menjadi suatu mata air yang memancar sampai ke dalam hidup yang kekal.” Yahya 4 : 14. Kristus menunjuk kepada “air” sebagai lambang dari kehidupan yang kekal. Jadi yang dimaksud dari meminum air bersama-sama dengan apam syeir ialah, bahwa jiwa-jiwa akan diselamatkan oleh setiap kebenaran baru (Roh kehidupan).

 

Makanan sesuai timbangan -- Air sesuai takaran

(Jehezkiel 4 : 10, 11)

 

Jehezkiel 4 : 10, 11 berbunyi :  “Maka makananmu yang akan kau makan itu hendaklah sesuai timbangannya ……. Engkau harus juga  minum air sesuai takarannya.”

 

“Takaran” dan “timbangan” adalah simbol-simbol yang menunjukkan bahwa Tuhan Allah hanya akan memberikan pekabaran atau kebenaran itu sesuai takarannya, setiap waktu sedikit. Sebagaimana terbaca dari nubuatan itu, “dari waktu ke waktu hendaklah engkau makan dan minum”, maka demikian itulah Tuhan Allah telah memberikan t e r a n g  setiap waktu sedikit sejauh kemampuan kita untuk menangkapnya. Terang itu telah datang dalam urut-urutan Alkitabnya yang tepat sebagai berikut :  Iman, Roh Suci, Karunia, Baptisan, Masa akhir zaman, dan Sabat (Istirahat).

 

          Ibrahim, bapa dari semua orang beriman itu, adalah lambang dari iman. Ishak, lambang dari Roh Kebenaran, karena Alkitab mengatakan ia telah lahir menurut kehendak Roh. Jakub, lambang dari Karunia, sebab ia sebagai seorang berdosa, kalau bukan karena karunia Allah, maka ia tidak mungkin dapat berhasil memperoleh hak kesulungan itu. Pergerakan Exodus Israel dari Mesir adalah lambang bagi Baptisan, karena kita baca di dalam 1 Korinthi 10 : 2  sebagai berikut :  “Maka semua mereka itu telah dibaptiskan bagi Musa di dalam awan-awan dan di dalam laut.” Kehidupan di padang belantara adalah lambang dari persoalan kaabah kesucian pada akhir dari 2300 hari atau tahun itu. Di padang belantara itulah kaabah kesucian di sorga telah ditiru modelnya oleh kaabah di dunia. “Tanah Perjanjian” ialah lambang dari peristirahatan Sabat. Di tanah perjanjian mereka akan beristirahat kalau saja mereka berhasil mengusir keluar orang-orang kapir itu, namun karena sombong kebangsaannya dan ketidak-percayaan, maka mereka telah gagal untuk memperoleh istirahat  yang dijanjikan itu. Pendurhakaan Israel di tanah perjanjian adalah lambang dari kegagalan kita untuk mematuhi Allah di waktu ini.

 

Penjelasan dari Jehezkiel 4 : 12, 14, 15

 

         Nubuatan ini sesungguhnya sangat indah dan menarik, tetapi kini kita sampai kepada bagian yang sangat menyedihkan. Injil yang akan dikutip ini barangkali belum pernah dibaca di depan umum, atau juga belum pernah dimuat di dalam literatur manapun juga. Namun jika iaitu tidak dipelajari untuk dibaca di depan umum ataupun untuk diterbitkan, maka Tuhan Allah tentunya tidak perlu menempatkannya di dalam Alkitab. Oleh sebab itu, adanya hal itu di dalam Alkitab tak dapat tiada untuk memenuhi sesuatu maksud. Untuk itulah supaya dipikirkan. Kita baca ayat-ayat itu di bawah ini:

 

          Maka hendaklah engkau membakarnya dengan tahi yang keluar dari manusia di depan mata mereka itu. Kemudian kataku, Ya Tuhan Hua, bahwasanya jiwaku belum pernah menjadi najis; karena semenjak dari masa mudaku sampai kepada sekarang ini aku belum pernah makan bangkai atau sesuatu binatang yang tercabik-cabik, juga belum pernah  masuk ke dalam mulutku daging yang haram. Lalu firman-Nya kepadaku, Bahwasanya Aku telah memberikan kepadamu tahi lembu akan ganti tahi manusia, maka hendaklah engkau mempersiapkan rotimu dengannya.”Jehezkiel 4 : 12, 14, 15.

 

          Kepada nabi Jehezkiel diberitahukan, bahwa ia tidak boleh menggunakan kayu, ataupun arang batu untuk membakar apamnya itu di atasnya, melainkan ia harus menggunakan “tahi yang keluar dari seseorang.” Bagi Jehezkiel hal itu sangat menjijikan, sehingga ia mohon agar kiranya dimaafkan untuk berbuat sedemikian itu. Tuhan kemudian memberikan kepadanya kelonggaran, bukan karena dipaksa melainkan hanya karena kepentingan Jehezkiel, dengan mengatakan kepadanya  supaya membakarnya dengan “tahi lembu”. Ayat 13 memberikan penjelasan perihal lambang itu sebagai berikut :

 

“Maka Tuhan berfirman : “Demikianlah bani Isarel akan makan roti  mereka yang najis itu di antara segala bangsa kapir.” — Jehezkiel 4 : 13.

 

Lambangnya adalah, bahwa setiap bagian kebenaran yang telah datang sejauh itu, telah dinajiskan, termasuk juga kebenaran yang terakhir (Sabat), sekalipun berbagai petunjuk telah diberikan kepada kita baris demi baris, maupun kalimat demi kalimat. Gambaran itu memberitahukan ceriteranya; simbol-simbol itu tidak berdusta. Gantinya kita terus mendurhaka karena telah dibukakan berbagai kegagalan kita, kita seharusnya memuji Allah karena dalam kemurahan-Nya Ia telah mengeluarkan suatu panggilan bagi reformasi,  supaya kita tidak akan tertinggal untuk binasa dalam dosa-dosa kita, melainkan kepada kita diberikan kesempatan untuk memilih kepada siapa hendaknya kita berbakti.

 

         Pertanyaan yang mungkin timbul, ‘Bagaimanakah mungkin kita telah menajiskan kebenaran Allah ?’  Salah satu dari antara banyak petunjuk yang ada kami kutip berikut ini  :

 

         Suatu kesalahan besar telah dibuat oleh beberapa orang yang mengakui kebenaran sekarang, karena menawarkan barang-barang dagangan selama berlangsungnya pertemuan-pertemuan ……….. Para pendeta telah berdiri di mimbar-mimbar menghotbahkan sesuatu pidato penting, lalu kemudian menawarkan barang-barang dagangan dan bertindak sebagai penawar barang-barang, bahkan di dalam rumah Allah …………. Tanggung jawab untuk menjual buku-buku kita janganlah dibebankan pada pendeta yang bekerja membagi-bagikan firman dan doktrin.” – 1 Testimonies, pp. 471, 472.

 

“Aku tampak Pembimbing kita (Kristus) menunjuk pada pakaian-pakaian mereka yang disebut orang-orang benar itu. Ditelanjangi-Nya mereka itu, dibukakan-Nya kotoran mereka itu di bawah. Kemudian firman-Nya kepadamu : ‘Tidakkah engkau melihat bagaimana mereka itu secara berpura-pura menutup-nutupi kotoran dan kebusukan tabiat mereka ?  Bagaimana negeri yang setia itu telah menjadi seorang sundal ?’ Rumah Bapa-Ku telah dijadikan sebuah rumah dagang, yaitu suatu tempat dari mana kehadiran Ilahi dan kemuliaan telah lenyap. Karena sebab inilah terdapat kelemahan, dan kegagalan kekuatan.” – 8 Testimonies, p. 250

 

         Demikianlah kita memperoleh bukti bahwa setiap pekabaran yang telah datang sedemikian jauh telah dinajiskan, termasuk pula Sabat Tuhan yang suci itu.

 

Empat Puluh Hari,

dan apa yang terjadi selama itu

 

           Sesudah membahas 390 tahun itu di atas, maka berikut ini kita sampai kepada membicarakan 40 tahun berikutnya. Sesudah Jehezkiel menyelesaikan seluruh masa 390 tahun itu, maka kemudian kepadanya diperintahkan untuk berbalik ke sisinya sebelah kanan, dan supaya berbaring lagi selama 40 hari atau tahun. Selama 40 tahun ini Jehezkiel tidak diperbolehkan makan apa-apa. Berarti ia wajib berpuasa selama seluruh 40 tahun itu. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, bahwa jika seseorang harus berbaring pada sisinya sebelah kiri, maka lambungnya tidak dapat mengosongkan dirinya sendiri; tetapi kini ia harus berbaring pada sisi kanannya. Posisi ini akan memberikan kesempatan bagi lambungnya untuk mengosongkan dirinya. Secara alamiah, jika lambung hendak kosong dan belum dapat menerima makanan lainnya, maka orang akan merasa lapar (lambang dari lapar rohani).

 

         Lambang ini menunjukkan, bahwa sidang telah berada dalam kemerosotan rohani selama 40 tahun, dan ia tidak memiliki makanan rohani yang baru untuk dimakan. Orang boleh saja mengatakan, “Kami memiliki Alkitab dan tulisan-tulisan Kesaksian Jesus dan kami makan daripadanya.” Memang benar kita memiliki semuanya itu, tetapi semuanya itu telah tertutup pengertiannya daripada kita, sebab kita tidak memanfaatkan dengan sepatutnya kebenaran-kebenaran yang sudah kita miliki.  Dan ini terbukti dari kenyataan bahwa sidang belum memiliki lagi terang baru atas berbagai perkataan Injil yang belum dapat dipahami selama 40 tahun yang lalu.

 

          Periode 40 tahun itu dimulai dalam tahun 1890, tepatnya setelah periode 390 tahun itu berakhir. Dan periode 40 tahun itu sendiripun  sudah lewat, maka kini kita harus memperoleh kembali makanan untuk dimakan, atau sebaliknya kita akan mati. Itulah sebabnya, maka Tuhan Allah dalam kemurahan-Nya selalu ingat akan umat-Nya, dan kini Ia sedang mengundang kita untuk datang kepada pesta perayaan yang lainnya.

 

            Maukah anda, Saudara-Saudariku, datang menghadiri perjamuan yang besar itu ? Atau maukah anda kembali berdalih-dalih dengan berbagai alasan : “Saya telah membeli sebidang tanah, maka saya perlu sekali pergi melihatnya; mohon dimaafkan.“ Atau maukah anda menjawab : “Aku telah membeli lima pasang lembu, maka aku harus pergi untuk mencobanya.”  Atau akan jadi kelak bahwa anda baharu saja menikah, sehingga anda tidak dapat datang. “Ingatlah bahwa orang-orang miskin, dan orang-orang kudung, dan orang-orang timpang, dan orang-orang buta, dari jalan-jalan raya dan lorong-lorong tidak akan ragu-ragu untuk datang. Gedung itu akan dipenuhi orang banyak. “Karena Aku tegaskan kepadamu, bahwa seorangpun tiada dari antara segala orang yang diundang itu akan dapat menikmati perjamuan-Ku.” – Lihat Lukas 14 : 16 – 24.

 

 Ringkasannya

 

          Pekabaran demi pekabaran yang telah datang semenjak dari Luther berakhir untuk sementara dalam tahun 1890. Hamba Tuhan Nyonya White sebagai utusan yang ke-6 terakhir datang membawakan kepada kita pekabaran barunya hanya sampai tahun 1890. Sesudah itu, sekalipun beliau masih terus menulis, sekaliannya itu tidak lagi menyajikan sesuatu pekabaran baru apapun. Selama 40 tahun berikutnya sejak tahun 1890 sampai tahun 1930 adalah masa puasa, suatu masa yang akan menciptakan kelaparan rohani bagi umat Tuhan yang telah diwakili dalam nubuatan ini oleh nabi Jehezkiel, supaya mereka berharap dan mendambakan suatu makanan yang baru. Dan demikian itulah, maka Tuhan Allah oleh rahmat-Nya yang besar telah mendatangkan bagi kita pekabaran yang terakhir, yaitu pekabaran dari malaikat Wahyu 18 : 1 oleh Victor T. Houteff sebagai juru-kabarnya.

 

          Malaikat sidang jemaat Laodikea dan semua pengikut setianya, yang telah menolak Houteff dan pekabaran barunya itu sejak mulanya, tidak lagi diwakili oleh nabi Jehezkiel. Sebaliknya mereka itu akan diwakili oleh kota Jerusalem sebagaimana yang dinubuatkan pada Jehezkiel 4 : 1.

 

T u j u h --- Angka bilangan yang sempurna

 

          Di dalam nubuatan ini kita temukan adanya hanya 6 pokok pekabaran, maka hanya ada 6 langkah maju yang telah ditempuh.  Pertama-tama oleh Martin Luther, kemudian oleh John Knox, lalu John Wesley, Campbell, William Miller dan Ellen G. White. Karena angka bilangan “enam” adalah bukan suatu angka yang sempurna, maka tak dapat tiada masih akan ada lagi satu angka berikutnya yang menyusul.  Masih ada satu langkah lagi untuk maju. “Tujuh” ialah angka yang sempurna, yaitu angka Alkitab. Persoalannya sekarang adalah, mengapa pekabaran yang ke-tujuh tidak diikut-sertakan di dalam nubuatan ini ?

 

          Sebab enam pekabaran itu telah dikotorkan; telah dinajiskan dengan persiapan-persiapan ciptaan manusia, yaitu hasil-hasil pikiran sendiri,  dan berbagai rencana sendiri telah dimasukkan dan diikuti, yang dalam pemandangan Allah adalah najis bagaikan “t a h i“.  Tetapi tidak demikian halnya dengan pokok pekabaran yang ke-tujuh. Karena iaitu adalah yang terakhir, maka pokok pekabaran yang ketujuh itu harus murni, dan tidak lagi dikotorkan. Pokok pekabaran yang terakhir itulah yang dilambangkan oleh malaikat dari Wahyu 18 : 1  yang  berbunyi :

 

          “Maka sesudah segala perkara ini aku tampak seorang malaikat lain turun dari langit dengan kuasa besar; maka bumi diterangi oleh kemuliaannya.“ Pada waktu yang sama ini pula nubuatan dari Jesaya berikut ini akan digenapi.  Nabi Jesaya mengatakan :

 

          “Bangunlah, bangunlah; kenakanlah kuatmu, hai Sion; kenakanlah semua pakaian perhiasanmu, hai Yerusalem, Kota Suci, karena mulai dari sekarang tidak akan lagi masuk ke dalammu orang-orang yang tidak bersunat maupun yang keji. Kebaskanlah habu daripadamu, bangunlah dan duduklah, hai Yerusalem; lepaskanlah segala pengikat lehermu, hai puteri Sion yang tertawan (Sidang Allah yang murni).” – Jesaya 52 : 1, 2.

 

          Perhatikanlah bagian yang terakhir dari ayat yang pertama : “Karena  mulai dari sekarang tidak akan lagi masuk ke dalammu orang-orang yang tidak bersunat dan mereka yang keji.”

 

          Selalu ada saja sepanjang sejarah terdapat di dalam sidang Tuhan orang-orang yang tidak bersunat, dan mereka yang keji, dan orang-orang yang tidak bertobat. Tetapi di sini nabi itu mengatakan bahwa sekaliannya itu kelak tidak akan ada lagi. Nabi Zepanya bahkan juga telah menubuatkan perihal yang sama itu sebagai berikut :

 

          “Israel yang sisa tidak akan melakukan kejahatan, tidak akan berbicara dusta; juga suatu lidah yang menipu tidak akan lagi terdapat di dalam mulut mereka; karena mereka akan makan dan berbaring, dan tidak seorangpun yang akan menakut-nakuti mereka.”Zephanya 3 : 13.     

 

Hamba Tuhan Nyonya White bahkan juga mengatakan sebagai berikut :

 

          “Dengan berpakaikan senjata kebenaran Kristus, maka sidang akan memasuki peperangannya yang terakhir. ‘Indah bagaikan bulan, cerah bagaikan matahari, dan hebat bagikan suatu bala tentara dengan panji-panjinya,’ ia akan maju terus ke seluruh dunia dengan kemenangan serta untuk memenangkan.”Prophets and Kings, p. 725.

         

          Pokok pekabaran yang ketujuh itulah, yang dalam kemurnian dan kesuciannya telah dinyatakan sebagai senjata kebenaran Kristus, yang akan diberitakan oleh sidang Tuhan yang akan datang, yang benar-benar sudah suci.

 

         Kalaupun nubuatan mengenai 430 tahun itu menemukan permulaannya pada pergerakan Reformasi dari Luther, maka pelajaran ini adalah berlaku bagi masa ini, dan bagi umat di zaman ini. Belum pernah sebelumnya nubuatan ini dapat dimengerti, dan bahkan sampai kini belum ada seorangpun pernah membicarakannya. Namun setelah genap waktunya, maka Tuhan Allah tak dapat tiada akan memberitahukannya kepada kita. Demikianlah Ia telah menghantarkan umat-Nya dari waktu ke waktu.

 

P e n g e p u n g a n

 

Jehezkiel 4 : 1 berbunyi : “Engkau juga, hai anak Adam, ambillah olehmu akan sebuah batu bakar, dan letakkanlah dia di hadapanmu, dan gambarkanlah padanya kota itu, yaitu Jerusalem.”

 

Di sini Yerusalem dimaksudkan kepada anggota sidang. Jehezkiel dianjurkan untuk mengukir sebuah kota, dan menyebutnya Jerusalem, dan ia harus mengukirkannya di atas sebuah batu bakar. Kertas atau kulit tidak boleh digunakan, sebab iaitu tidak tahan lama. Karena iaitu diukir di atas batu bakar, maka itu tidak mudah terhapus. Ini berarti nubuatan  ini pasti akan jadi, dan setelah sekali kejadiannya menjadi sejarah, maka orang tak akan dapat melupakannya.

 

Jehezkiel 4 : 2 berbunyi : “Lalu kepunglah dia, dan dirikanlah sebuah kubu pertahanan melawannya, dan timbunilah tanah untuk melawan dia, bahkan tempatkan juga perkemahan pasukan berhadapan dengan dia, dan susunlah alat-alat pendobrak melawan dia sekelilingnya.”

 

“Kepunglah dia” artinya, serbulah kota itu (sidang) dengan suatu bala tentara untuk memaksanya menyerah, dan berusaha untuk dapat menguasai kota itu – sidang itu. Nabi Jehezkiel dalam kedudukannya mewakili umat Allah selama masa kegenapan nubuatan ini diwajibkan untuk memerangi Jerusalem, yang melambangkan GEREJA MAHK  dengan kelengkapan senjata pendobraknya, yaitu Kebenaran Alkitab dan ROH NUBUATAN yang meyakinkan dan tegas.

 

Jehezkiel 4 : 3 berbunyi :  “Dan lagi ambillah bagimu sebuah kuali besi, dan taruhlah akan dia menjadi sebuah tembok besi di antara kamu dengan kota itu. Dan tujukanlah mukamu kepadanya, maka iaitu akan dikepung, dan hendaklah engkau mengepungnya. Ini akan menjadi suatu tanda bagi isi rumah Israel.”

 

Ini adalah lambang dari suatu pemisahan di antara dua kelompok orang-orang. Namun ini tidak berarti mereka itu tidak saling melihat atau saling berbicara satu kepada lainnya. Jadi, pemisahan ini hanyalah dalam prinsip atau dalam peraturan-peraturan yang dianut oleh masing-masing pihak.

 

Masa Lapar Rohani

 

Jehezkiel 4 : 16, 17  berbunyi  :

Lagi pula firman-Nya kepadaku, Hai anak Adam, bahwasanya Aku akan memutuskan persediaan roti di Yerusalem; maka mereka itu akan makan rotinya dengan ditimbang dan dengan berhati-hati; dan mereka akan meminum air sesuai takarannya, dan dengan bimbang hatinya, sehingga mereka akan kekurangan roti dan air, lalu mereka menjadi bimbang di antara sesamanya, dan mereka itu makin lama makin habis karena kejahatannya.”

 

Ayat 13  (“Maka Tuhan berfirman : ‘Demikianlah bani Israel akan makan roti mereka yang najis itu di antara segala bangsa kapir.’”)  Ayat 13 ini berlaku bagi masa periode dari 390 tahun itu.  Ayat 16, dan 17 berlaku bagi masa periode 40 tahun berikutnya.

 

Ayat 16 itu telah dimulai dengan kata-kata : “Lagi pula firman-Nya kepadaku”, artinya di samping itu, atau selanjutnya, “Aku akan memutuskan (menghentikan, atau mengecilkan), persediaan roti di Yerusalem, sehingga mereka akan makan roti dengan ditimbang dan dengan berhati-hati, dan  minum air sesuai takaran dan dengan perasaan  bimbang,” artinya dengan sangat menghemat, sampai persediaan roti mereka itu habis, dan akhirnya mereka kelaparan. “Bimbang”, artinya,  mereka dapat saja mengatakan, “kita memiliki kebenaran atau  kita adalah umat Allah, tetapi kita tidak mengerti  apa–apa, mengapa begini atau  mengapa begitu; kuasa tidak ada, dan tampaknya ada sesuatu yang salah.  Ayat 17 merupakan kegenapan dari nubuatan yang terdapat pada ayat 16.  Ayat 17 berbunyi : “Sehingga mereka akan kekurangan roti dan air, lalu mereka akan menjadi bimbang di antara sesamanya, dan mereka itu makin lama makin habis karena sebab kejahatannya.” Artinya, dalam masa periode 40 tahun itu mereka akan menghabiskan semua persediaan roti dan air mereka, sehingga mereka benar-benar menjadi lapar, agar supaya dapat mereka menyadari dan menemukan semua kesalahan mereka.

 

Ringkasannya

          Seluruh enam pokok pekabaran yang telah datang semenjak dari Luther itu telah terangkum di dalam buku-buku Roh Nubuatan dari Nyonya Ellen G. White. Ini hendaknya dapat dimengerti, sebab setiap terang baru atau pekabaran baru yang datang tidak akan meniadakan terang atau pekabaran yang lama. Oleh sebab itu selama 380 tahun semenjak dari Luther sampai tahun 1890, seluruh enam pokok pekabaran itu sudah lengkap tersedia di dalam GEREJA kita Masehi Advent Hari Ketujuh. Sekalipun hamba Tuhan Nyonya White kemudian masih terus menulis sesudah itu, namun sekaliannya itu tidak lagi berisikan sesuatu terang baru apapun. Tetapi mengapakah keenam pokok pekabaran itu kemudian dinubuatkan bagaikan telah dibuatkan roti yang dibakar di atas tahi ? Roh Nubuatan itu telah sangat dinajiskan sampai kepada hari ini karena telah salah diinterpretasikan dan dipraktikkan di dalam gereja-gereja kita. Berbagai perbuatan yang sedemikian itulah yang sangat menjijikkan pada pemandangan Allah. Lebih-lebih lagi setelah Penguasa GEREJA lalai melaksanakan “Pembangunan Rohani dan Reformasi Rohani” sebagaimana yang dipesankan Tuhan kepadanya di dalam majalah Review and Herald, 25 Pebruari 1902.

 

            Roh Nubuatan itu sesungguhnya belum sepenuhnya dapat dimengerti, sebab sekaliannya itu baharu merupakan sebuah terang kecil. Nyonya White mengatakan : “Sedikit sekali perhatian diberikan kepada Alkitab, maka Tuhan telah mengaruniakan sebuah terang yang lebih kecil  (Roh Nubuatan) untuk menghantarkan pria dan wanita kepada terang yang lebih besar (pekabaran dari Malaikat Wahyu 18 : 1).” -- Evangelism, p. 257. (Sisipan di dalam kurung dari penulis).

 

           Permulaan dari pekabaran Malaikat Wahyu 18 : 1 telah datang berupa pekabaran mengenai “Pembenaran oleh Iman”, yang ditawarkan kepada General Conference of SDA tahun 1888 di Minneapolis, Minnesota, USA. Bahkan sampai pada tahun 1890 para penguasa General Conference telah diberi kesempatan untuk menyambut pekabaran itu sebelum mereka  dinyatakan jatuh dalam dosa “suam” rohani. Namun karena terus menolaknya, maka selama 40 tahun kemudian sesudah itu sampai tahun 1930 GEREJA kita Masehi Advent Hari Ketujuh telah berada dalam kondisi kerohanian yang suam. Selama itulah kita telah dinubuatkan bagaikan telah dibiarkan berpuasa, supaya kita kelak merasa lapar untuk mengharapkan kedatangan makanan yang baru berikutnya.

 

         Kelengkapan dan keutuhan dari pekabaran Malaikat Wahyu 18 : 1 itulah yang baharu datang kemudian sejak tahun 1930, dengan Sdr. Victor T. Houteff sebagai nabinya. Pekabaran inilah yang telah bergabung dengan pekabaran Malaikat yang ketiga dari Nyonya White, lalu menerangi bumi ini dengan kemuliaannya, dimulai di dalam GEREJA kita MAHK. 

 

K e s i m p u l a n

 

          Di dalam nubuatan ini Saudara dan saya telah diwakili oleh nabi Jehezkiel, yang selama 40 tahun lamanya telah berpuasa, sehingga kita kini benar-benar sedang lapar dan dahaga akan sesuatu kebenaran baru. Oleh karunia takdir Ilahi, maka secara tak terduga kita telah dihantarkan sampai kepada pekabaran ini, yang sedang ditawarkan kepada masing-masing kita dengan cuma-cuma. Jesus mengatakan : “Berbahagialah mereka yang lapar dan dahaga akan kebenaran, karena mereka itu akan dijamu sampai kenyang.” Matius 5 :  6. Namun karena para Penguasa GEREJA telah menolak pekabaran ini semenjak dari mulanya (tahun 1888-1890), dan bahkan sejak tahun 1930 (setelah berpuasa 40 tahun lamanya), mereka masih juga terus menolaknya, maka sesuai petunjuk dari nubuatan ini kita harus menawarkannya langsung kepada Jerusalem, yang melambangkan seluruh isi rumah Israel di akhir dunia sekarang ini.

      

         Sekalipun pekabaran yang terakhir ini adalah sebuah “Kabar Baik” yang sedianya sudah harus disambut gembira oleh semua pihak, namun pada kenyataannya (sebagaimana yang telah dinubuatkan di atas) kita harus memaksa menyerbu masuk di antara semua umat Jerusalem,  bagaikan dalam sesuatu peperangan yang dahsyat, sehingga tidak membiarkan seorangpun dari mereka luput daripada pembantaian yang akan datang, yang dinubuatkan pada Jehezkiel pasal 9, untuk kelak kemudian menyatakan dirinya, “kami belum pernah dengar”. Karena makanan kacang-kacangan yang dinubuatkan di atas ini pertama sekali telah diproduksi oleh Luther, maka hamba Tuhan Nyonya White yang telah mendirikan GEREJA kita sejak mulanya mengingatkan :

 

         “Reformasi itu tidaklah sebagaimana banyak orang menyangka berakhir dengan Luther saja. Iaitu akan diteruskan sampai kepada akhir sejarah dunia. Luther memiliki suatu tugas besar dalam memantulkan kepada orang-orang lain t e r a n g yang Allah telah berkenan memancarkan atasnya; tetapi ia belum memperoleh semua terang yang akan dikaruniakan kepada dunia. Semenjak dari waktu itu sampai kepada hari ini, terang baru terus menerus menyinari Alkitab, dan kebenaran-kebenaran baru terus menerus diungkapkan.”The Story of Redemption, p. 353.

 

         Pokok pekabaran yang ketujuh ini, sekalipun murni dan tidak lagi dipanggang di atas “tahi” seperti halnya dengan enam pokok pekabaran yang mendahuluinya, namun kemurniannya itu belum akan tampak jelas sekarang, sebab Israel yang sisa itu belum lagi muncul. Sekalipun pokok pekabaran yang ketujuh ini kini berada hanya di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana atau kelas gandum itu, namun karena terbukti masih ada lagi sebagian anak-anak dara bijaksana yang memiliki “tipu” di mulutnya (Wahyu 14 : 5), yaitu mereka yang tergolong “sekam” itu, maka dapatlah dimengerti, bahwa pokok pekabaran yang ketujuh dari Wahyu 18 : 1 itu baharu akan diberitakan dengan semurni-murninya sesudah pembersihan sidang jemaat Laodikea yang akan datang. 

 

 

 

*  *  *