Pemecahan Tujuh Buah Meterai

(Kelanjutan dari : Sidang Pengadilan)

 

Bagian Ke - II

 

 

 

 

Rasul Yahya menuliskannya sebagai berikut :

 

          Sesudah ini aku tampak, maka tengoklah, sebuah pintu terbuka di dalam sorga, maka suara yang pertama sekali kudengar adalah bagaikan dari sebuah trompet yang berbicara kepadaku, yang mengatakan: ‘Naiklah kemari, maka aku akan menunjukkan kepadamu perkara-perkara yang tak dapat tiada harus jadi kemudian‘. Maka segeralah aku berada dalam Roh, lalu tengoklah, sebuah tahta dipersiapkan di dalam sorga, dan seseorang duduk di atas tahta itu.

 

          Maka dia yang duduk itu rupanya seperti sebuah permata yasip dan sebuah batu akik; dan terdapat sebuah pelangi yang mengelilingi tahta itu, seperti sebuah zamrud rupanya. Dan sekeliling tahta itu ada dua puluh empat tempat duduk, dan pada tempat-tempat duduk itu aku tampak dua puluh empat tua-tua sedang duduk, yang berpakaian putih-putih, dan mereka memiliki di atas kepalanya mahkota-mahkota emas .……………………………………………………..…………………………

 

          “Maka aku tampak di dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu sebuah kitab yang tertulis di dalamnya dan di luarnya, yang tersegel dengan tujuh buah meterai.

 

          “Maka aku tampak seorang malaikat perkasa memberitakan dengan suatu suara besar: ‘Siapakah yang layak untuk membuka kitab itu, dan melepaskan meterai-meterainya ?’   Maka baik di sorga, baik di bumi, atau di bawah bumi, tak seorangpun yang mampu membuka kitab itu ataupun memandanginya. Maka sangatlah aku menangis sebab tiada seorangpun didapati layak untuk membuka dan membaca kitab itu, ataupun untuk memandang padanya.

 

          “Maka salah seorang dari para tua-tua itu mengatakan kepadaku: ‘Jangan menangis; tengoklah, singa dari suku bangsa  Jehuda, yaitu  Akar Daud  itu, sudah menang untuk membuka kitab itu, dan untuk melepaskan tujuh meterainya.’

 

          “Maka aku tampak, dan,  heran, di tengah-tengah tahta dan di tengah-tengah empat binatang itu, dan di tengah-tengah para tua-tua itu  berdiri seekor Anak Domba yang bagaikan sudah disembelih rupanya, yang bertanduk tujuh dan bermata tujuh, yaitu tujuh Roh Allah yang sudah diutus ke seluruh bumi.

 

          Maka datanglah Anak Domba itu lalu mengambil kitab itu dari dalam tangan kanan Dia yang duduk di atas tahta itu. Dan setelah diambilnya kitab itu, maka empat binatang dan dua puluh empat tua-tua itu bersujudlah di hadapan Anak Domba itu, masing-masing mereka memegang kecapi  dan bokor emas yang penuh bau-bauan, yaitu doa-doa dari orang-orang suci.

 

          Maka menyanyilah mereka itu suatu nyanyian yang baru  bunyinya: ‘Layaklah Engkau mengambil kitab itu dan membuka meterainya, karena Engkau sudah tersembelih, dan oleh darah-Mu  Engkau  t e l a h  menebus  k a m i  bagi  Allah daripada setiap suku bangsa, dan bahasa, dan umat, dan bangsa, dan Engkau telah membuat kami menjadi raja-raja dan imam-imam bagi Allah kami; maka kami akan memerintah di bumi.

 

          “Maka aku tampak, dan aku dengar suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta dan binatang-binatang dan para tua-tua itu:  maka angka bilangan mereka itu adalah sepuluh ribu kali sepuluh ribu, dan beribu ribu; yang mengatakan dengan suara besar:  ‘Layaklah Anak Domba yang tersembelih itu untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan berkat.

 

          “Maka setiap mahluk yang di dalam sorga, dan di bumi, dan di bawah bumi, dan sedemikian ini yang ada di dalam laut, dan semua yang ada di dalamnya, aku dengar mengatakan: ‘Bagi Dia yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba itu, adalah berkat, dan hormat, dan kemuliaan, dan kuasa sampai selama-lamanya.

         

          “Maka empat binatang itu mengatakan: ‘Amin. Lalu dua puluh empat tua-tua itupun bersujudlah dan menyembah Dia yang hidup untuk selama-lamanya.” – Wahyu 4 : 1 – 4; 5.

 

Semua yang diucapkan di atas ialah yang telah disaksikan Yahya di dalam sidang Pengadilan yang berlangsung di dalam kaabah kesucian sorga semenjak dari tahun 1844 yang lalu. Yahya selanjutnya mengatakan :

 

“Maka aku tampak sewaktu Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu, lalu kudengar salah satu dari empat binatang itu berkata seperti bunyi guntur : ‘Marilah dan lihatlah !’ Maka aku tampak, dan tengoklah, seekor kuda putih, dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; dan sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya, lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.

 

          “Maka setelah Ia membuka meterai yang kedua, aku dengar binatang yang kedua itu mengatakan : ‘Marilah dan lihatlah !’ Dan keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya; maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang berbunuh-bunuhan; dan sebilah pedang yang besar dikaruniakan kepadanya.

 

          “Maka setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan : ‘Marilah dan lihatlah !’ Dan aku tampak ada seekor kuda hitam, dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan di dalam tangannya. Maka aku dengar suatu bunyi di tengah-tengah empat binatang itu mengatakan : ‘Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya; tetapi perhatikanlah olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.

 

          “Maka setelah Ia membuka meterai yang keempat aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan : ‘Marilah dan lihatlah!’ Maka aku tampak ada seekor kuda kelabu, dan orang yang duduk di atasnya itu M a -  u t namanya, maka n e r a k a itu mengikuti sertanya.  Maka kuasa dikaruniakan kepada k e d u a n y a atas seperempat b u m i untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang  yang di bumi.”  -- Wahyu 6 : 1 - 8.

 

           Karena meterai-meterai itu berisikan sejarah dunia, maka warna yang berbeda-beda dari keempat ekor kuda itu, yaitu dari putih ke merah, kemudian menjadi hitam dan terakhir menjadi kelabu, jelas membuktikan adanya empat kondisi yang berbeda-beda yang satu menyusul lainnya. Lagi pula mahkota dari pengendara kuda yang pertama, dan pedang dari pengendara kuda yang kedua, juga  neraca timbangan dari  pengendara  kuda  yang  ketiga, serta nama  M a u t pada pengendara kuda yang keempat, ------ keempatnya itu membuktikan dengan jelas, bahwa oleh perbuatan-perbuatan  manusia sendiri, maka dunia ini telah beralih dari yang baik menuju kepada yang buruk, kemudian dari yang buruk  menuju kepada yang terburuk. Inilah sebabnya, maka manusia itu perlu dibantu untuk  keluar daripada kejahatannya, perlu dididik kembali sesuai dengan kehendak  dari Khalik Penciptanya. Namun kemauan baik dari Tuhan Allah ini baharu bisa berhasil apabila manausia mau melepaskan berbagai teori dan kemauan dari pribadinya sendiri. Musa menemukannya seribu kali lebih mudah untuk memimpin orang-orang Iberani yang banyak itu keluar dari Mesir, daripada memimpin  Mesir  keluar dari mereka.

 

Lambang dari Meterai yang Pertama

 

            “Maka aku tampak sewaktu Anak Domba itu membuka salah satu dari meterai-meterai itu, maka ku dengar salah satu dari keempat binatang itu berkata seperti bunyi guntur : ‘Marilah dan lihatlah !’ Maka aku tampak dan tengoklah, seekor kuda putih; dan dia yang duduk di atasnya itu memiliki sebuah panah; maka sebuah mahkota dikaruniakan kepadanya, lalu keluarlah ia dengan kemenangan dan untuk memenangkan lagi.”  -- Wahyu 6 : 1, 2.

 

 

            Pada dasarnya, meterai yang pertama, meterai dengan mana Sidang Pengadilan itu dimulai, harus berisikan perkara-perkara yang ada semenjak dari masuknya manusia  di bumi ini.  Jadi kuda putih itu tak dapat tiada melambangkan keadaan dunia ini sejak mulanya, yaitu bersih dan tidak berdosa dengan seorang raja yang bermahkota, yang untuk pertama kalinya tidak bertujuan lain terkecuali menundukkan bumi dan menguasainya, lalu mengisinya dengan mahluk-mahluk yang kekal sama seperti Tuhan Allah sendiri.  Bumi itu sendiri pada mulanya adalah terbungkus dalam suatu selimut keindahan dan kebersihan, berikut berbagai keajaibannya di darat dan di lautan. Tidak ada satupun yang kurang.

 

          Mahkota pengendara itu dan panahnya mengingatkan kita kepada jabatan yang pertama sekali diisi oleh manusia segera setelah Tuhan Allah berfirman kepada Jesus : ‘Marilah kita membuat manusia dalam bentuk Kita, mengikuti kesamaan Kita; dan biarlah mereka itu memiliki pemerintahan atas ikan-ikan di laut, dan unggas-unggas di udara, dan atas setiap binatang melata yang melata di atas bumi.’ Kejadian 1 : 26. Allah telah memberkati Adam dan Hawa  semenjak dari mulanya, dan kepada mereka IA berfirman :  Berbiaklah, dan berlipat gandalah kamu, dan penuhilah bumi itu, dan taklukkanlah dia.’  Kejadian 1 : 28.

 

          P a n a h sebagai alat untuk memenuhi bumi dan mengalahkannya, tak dapat tiada melambangkan isterinya sendiri, yaitu  H a w a. Oleh sebab itulah, maka  pengendara  dan panahnya  berikut kuda putihnya itu adalah yang pertama sekali  akan ditimbang pada neraca-neraca timbangan sorga, yang akan pertama sekali lewat di hadapan Tahta Pengadilan itu.

 

Lambang dari Meterai yang Kedua

 

            Maka setelah Ia membuka meterai yang kedua, aku dengar  binatang yang kedua itu mengatakan: ‘Marilah dan lihatlah !’ Lalu keluarlah seekor kuda lain yang merah warnanya; maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa untuk mengambil perdamaian dari bumi, sehingga orang berbunuh-bunuhan; dan sebilah pedang  yang besar dikaruniakan kepadanya.” Wahyu 6 : 3, 4.

 

 

            Karena kuda putih berikut pengendaranya yang bermahkota itu melambangkan periode sejarah manusia yang pertama, maka kuda merah berikut pengendara pembunuh dan pembinasa perdamaian itu  tentunya akan melambangkan periode sejarah berikutnya, dimana pembunuhan dan peperangan pertama kali terjadi. Habil adalah korban pembunuhan yang pertama, dan sebagai akibatnya seluruh dunia di zaman Nuh telah dibinasakan oleh air bah yang dahsyat itu.

 

          Sekalipun bencana air bah itu telah menjadi objek pelajaran yang sangat berharga bagi umat manusia di waktu itu, namun setelah penduduk bumi kembali meningkat berlipat ganda, maka dosa pun ikut meningkat tak terkendalikan. Walaupun orang banyak itu tidak dapat menyangkal akan kebenaran dari ramalan Nuh perihal  air bah  yang telah memusnahkan  itu, namun  terhadap ramalan Nuh yang berikutnya bahwa tidak akan ada lagi air bah membinasakan bumi, Kejadian 9 : 11, mereka tetap tidak mau percaya. Gantinya membebaskan mereka itu daripada ketakutan, Firman Allah yang diucapkan oleh perantaraan Nuh itu malahan telah mendorong orang -orang di zaman sesudah air bah itu untuk kembali membangun menara Babil yang besar itu.

 

          Demikian itulah, maka Tuhan telah menunjukkan ketidak puasan-Nya terhadap mereka itu dengan cara mengganggu proyek pembangunan mereka yang jahat dan bodoh itu. IA telah mengacaukan bahasa mereka, sehingga telah lahir berbagai suku-suku bangsa dan bahasa-bahasa yang tak terhitung banyaknya di waktu ini. Akhirnya, sementara para tukang yang kacau balau itu memisahkan diri berkelompok-kelompok, maka orang-orang yang saling bertetangga mulai bersengketa satu terhadap yang lainnya.  Setelah sekian lamanya mereka bertumbuh menjadi bangsa-bangsa, maka pertikaian mereka itupun terus bertumbuh menjadi peperangan-peperangan sampai kepada hari ini. Oleh sebab itu, kebenaran  sejarah yang menyatakan  bahwa semua peperangan  itu untuk pertama kalinya pecah sesudah  kekacauan bahasa-bahasa, membuktikan bahwa kuda mereka itu berikut penunggangnya  menggambarkan periode sejarah dimana menara Babil itu dimusnahkan dan dimana perdamaian telah membuka jalan bagi peperangan-peperangan. Kalimat yang berbunyi : ‘Untuk mengambil perdamaian dari bumi,’ menunjukkan bahwa perdamaian itu memang  a d a  sebelumnya.

 

          Sekalipun demikian akibat dari dosa Adam dan Hawa itu tidak terbatas pada hanya pembinasaan nyawa dan harta benda seperti halnya dalam peperangan, melainkan telah menghantarkan kepada kemerosotan derajat manusia yang lebih parah lagi, bahkan sampai kepada penyembahan berhala dan pembinasaan jiwa-jiwa melalui perantaraan agama, seperti yang tampak pada lambang berikut ini.

 

Lambang dari Meterai yang Ketiga

 

            Maka setelah Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga aku dengar binatang yang ketiga itu mengatakan: “Marilah dan lihatlah !’ Maka aku tampak ada seekor kuda hitam, dan orang yang duduk di atasnya itu memiliki sepasang neraca timbangan  di dalam tangannya. Maka aku dengar suatu bunyi suara di tengah-tengah  keempat binatang itu mengatakan : ‘Secupak gandum sedinar harganya, dan tiga cupak jelai sedinar harganya;  tetapi perhatikanlah  olehmu agar minyak dan air anggur jangan kau rusakkan.” --- Wahyu 6 : 5, 6.

 

 

            Karena kuda putih itu melambangkan pemerintahan manusia atas bumi ini selagi bumi masih dalam kondisi suci dan bersih serta dalam suasana kebebasannya, maka sekarang setelah berwarna hitam, maka kuda hitam itu tak dapat tiada harus melambangkan  pemerintahan manusia dalam kegelapan rohani dan perhambaan,  yaitu suatu kondisi yang bertolak belakang dengan apa yang dilambangkan oleh kuda putih itu.

 

          Ini dikuatkan oleh sejarah:  Bahkan jauh ke belakang sejauh zaman Ibrahim, yaitu kira-kira tiga ratus tahun sesudah air bah, penyembahan berhala telah merajalela menguasai penduduk dunia.  Pada waktu itulah Ibrahim telah meninggalkan Haran, rumah dan negeri ayahnya (Kejadian 11 : 31 ; 12 : 1). Semua keturunannya, yaitu Israel, akhirnya telah menjadi budak kepada Phiraun, dan kemudian kepada Nebukhadnezar, raja dari Babil.

 

          Mengenai sepasang neraca timbangan di dalam tangan penunggang kuda itu lebih jelas menunjuk kepada masa periode dari kuda hitam itu berikut peunggangnya. Jika panah dari penunggang kuda putih melambangkan alat dengan mana Adam memenuhi dan menguasai dunia ini pada mulanya, pedang dari penunggang kuda merah melambangkan alat dengan mana orang melenyapkan perdamaian dari bumi ini, maka sepasang neraca timbangan di dalam tangan penunggang kuda hitam itu tak dapat tiada melambangkan jenis-jenis perdagangan yang diperkenalkan pertama sekali dalam sejarah dunia yang lalu. Ini sangat berkaitan dengan  masalah pembelian dan penjualan.

 

          Di zaman Ibrahim hubungan dagang di antara bangsa-bangsa belum dikenal. Tetapi selama masa periode berikutnya, periode yang dilambangkan oleh kuda hitam itu, ide ini telah lahir. Kemudian pada waktu itulah Sidon dan Tyre menjadi pusat-pusat perdagangan yang utama. Alkitab menuliskannya sebagai berikut : “Siapakah yang telah membicarakan ini melawan Tyre (Tsur), kota yang dimahkotai itu, yang para saudagarnya adalah bagaikan penghulu-penghulu, yang para pedagangnya adalah  orang-orang  yang dihormati di bumi?   Jesaya 23 : 8.

         

          Tyre, kota ratu dari orang-orang Phenicia itu adalah hanya dekat jaraknya dari kota Sidon. “Berangsur-angsur mereka menyebarkan daerah-daerah perdagangannya meliputi seluruh Laut Tengah, bahkan sampai masuk ke tanah-tanah yang lain, senantiasa mencarikan daerah-daerah perdagangan yang baru  dan pusat-pusat pasar. Mereka adalah bagaikan lebah-lebah dari dunia kuno yang lalu yang membawakan butir-butir sari kebudayaan kemana-mana  saja mereka itu pergi. Kebutuhan-kebutuhan dagang dan jual beli telah mendorong mereka untuk menyempurnakan suatu alphabet (abjad), dan dari merekalah dunia Barat telah memperolehnya.  Dalam beberapa hal mereka adalah unik sekali dalam dunia kuno yang lalu,  dan keadaan yang menonjol ini telah terkubur bersama-sama dengan mereka. Karena mereka tidak berminat dalam kemenangan-kemenangan perang, terkecuali perdagangan saja, maka mereka tidak segan-segan untuk membayar upeti kepada penguasa-penguasa militer selama para penguasa itu tidak mencampuri dalam hak-hak perdagangan mereka. Mereka memiliki suatu kemampuan yang sama seperti orang-orang Gerika untuk berassimilasi dengan siapa saja, apakah itu Mesir, Babilonia, Asyur, Persia, ataupun sesuatu tahap peradaban lain yang ditawarkan kepada mereka. Tetapi kesenangan utama mereka terletak dalam mencipta, keahlian tehnik, kegiatan usaha, dan dalam bidang industri. Dalam pekerjaan besi, emas, tembikar, gelas, dan cat pewarna ungu, mereka dalam dunia kuno yang lalu tidak ada tandingannya.”

 

          “..........Melalui kota-kota mereka mengalir banyak barang dagangan Arab dan Timur yang sangat menguntungkan; dan para penghasil barang-barang mereka itu terus sibuk memproduksi hasil-hasil mereka yang berupa barang-barang logam, gelas, dan cat berwarna ungu. Melalui lautan dan daratan mereka itu membuat perjalanan ke mana-mana --- yaitu misi-misi dagang --- ahli-ahli penawaran dari Dunia Kuno yang lalu.” --- ESSENTIAL  KNOWLEDGE,  The Phoenicians, Vol. 1, pp. 69, 70.

         

          Kemudian perintah yang berbunyi: “Minyak dan air anggur itu jangan kau rusakkan,” telah datang dari tengah-tengah tahta, dan berasal dari Dia Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya, b u k a n   berasal dari pengendara kuda hitam itu. Oleh sebab itu, maka ternyata Tuhan Allah sangat berkepentingan dengan kedua barang dagangan itu, yaitu minyak dan air anggur, agar orang jahat tidak akan membinasakannya. Apakah yang dimaksud dengan “minyak dan air anggur“ itu ?

 

          Minyak melambangkan kebenaran nubuatan, yaitu kebenaran yang terangnya menyorot ke masa depan, yang menerangi jalan orang-orang yang membuat perjalanan (Mazmur 45 : 7; Zakharia 4 : 12), dan air anggur melambangkan bagian kebenaran yang membuat orang yang menyambut kebenaran itu gembira dan meyakinkan, membuat dia bertindak berbeda daripada sebelumnya (Jesaya 61 : 1 - 3).

 

          Jadi jelaslah, bahwa selama masa periode dari meterai yang ketiga itu alphabet atau abjad telah diciptakan, asal mulanya pengetahuan perdagangan datang, dan  dalam masa periode ini pula Alkitab mulai ditulis, dan disinilah bangsa yang satu mengalahkan bangsa lainnya, lalu lahirlah kerajaan-kerajaan dunia yang terkenal dalam sejarah.

 

          Sejarah Wasiat Lama berakhir dengan meterai yang ketiga, maka permulaan sejarah Wasiat Baru akan diungkapkan dalam meterai yang keempat.

 

Lambang dari Meterai yang Keempat

 

            Maka setelah Ia membuka meterai yang keempat, aku dengar suara binatang yang keempat itu mengatakan: “Marilah dan lihatlah!’ Maka aku tampak ada seekor kuda kelabu, dan orang yang duduk di atasnya itu M a -  u t namanya, maka alam maut (neraka) itu mengikutinya. Maka kuasa dikaruniakan kepada k e d u a n y a  atas s e p e r e m p a t   b u m i  untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang  yang di bumi.” -- Wahyu 6 : 7, 8.

           

 

            Karena kuda kelabu ini menemui sejarahnya dalam masa periode Wasiat Baru, maka ini akan sama dengan  binatang yang  tak tergambarkan dari nubuatan Daniel pasal 7 yang juga melambangkan periode sejarah Wasiat Baru. Dan inilah periode sejarah dari kerajaan Romawi itu.  

 

          Nabi Daniel dalam khayal telah menyaksikan empat ekor binatang yang keluar dari laut, yang melambangkan empat kerajaan dunia yang telah muncul menguasai dunia sesudah air bah yang lalu.  Kerajaan yang pertama  ialah  Babil, yang dilambangkan oleh seekor singa, kemudian disusul oleh Medo Persia, yang dilambangkan oleh  seekor beruang, sesudah itu kerajaan Gerika yang dilambangkan oleh harimau kumbang, dan yang keempat ialah kerajaan Romawi yang dilambangkan oleh seekor binatang yang tak tergambarkan;  karena memang binatang sedemikian itu belum pernah ada di muka bumi ini. Binatang keempat yang melambangkan  kerajaan Romawi  itulah  yang  menggenapi  sejarahnya dalam Wasiat Baru.            

 

                                                                                   

            Apa yang diperbuat oleh salah sebuah tanduk dari binatang yang tak tergambarkan itu oleh Daniel dijelaskan sebagai berikut: “Ia  akan mengucapkan beberapa perkataan melawan DIA Yang Maha Tinggi, dan akan menganiaya semua umat kesucian dari  Dia Yang Maha Tinggi, lalu merencanakan untuk mengubah masa dan hukum; maka mereka itu akan diserahkan ke dalam tangannya sampai satu masa, dua masa, dan setengah masa.”  Daniel 7 : 25.

 

          Karena adanya kesamaan di antara kuda kelabu dari meterai yang keempat dengan binatang yang tak tergambarkan dari Daniel pasal 7, maka apa yang diperbuat oleh tanduk kecil binatang itu  pada Daniel 7 :  25  di atas tak dapat tiada akan sama saja dengan  kata-kata  yang berbunyi:  Maka  kuasa  dikaruniakan  kepada  k e d u a n y a  atas seperempat bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan, dan dengan kematian, dan dengan segala binatang yang di bumi.” -- Wahyu 6 : 7, 8.

 

          Nama penunggang kuda kelabu itu, ‘M a u t‘, ternyata tepat dan cocok sekali dengan roh aniaya dan kekejaman di zaman itu, baik yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi maupun yang dimiliki oleh orang-orang Romawi. Sejarah dan nubuatan sama-sama mengukuhkannya, bahwa kekuatan subversi dari Romawi “telah menelan, menghancur-luluhkan, dan menginjak-injak yang sisanya dengan kaki-kakinya.”  Daniel 7 : 19.

                                   

Arti dari

“S e p e r e m p a t   B u m i“

 

            Kuasa telah dikaruniakan kepada k e d u a n y a atas  seperempat bumi  untuk membunuh  ..........dst.  Seperempat bumi itu dimaksud kepada lamanya aniaya itu berlangsung. Karena aniaya itu  berlaku atas umat Allah, maka kita hendaknya mencari tahu sejak kapan umat Allah harus mengalami penderitaannya di bumi ini akibat dari dosa, dan kapan tepatnya penderitaan mereka itu akan berakhir.  Seperempat dari seluruh masa penderitaan itu akan dialami umat Allah dalam sejarah yang lalu, dalam masa periode dari meterai yang keempat. Berbicara mengenai berapa lama umat Allah harus mengalami penderitaannya di bumi ini, hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut : 

 

          Pekerjaan pembinasaan Setan untuk selama-lamanya  berakhir. Selama 6.000  tahun  ia telah melaksanakan  kehendaknya, memenuhi bumi ini dengan sengsara dan menimbulkan kesedihan  di seluruh alam semesta. Seluruh mahluk ciptaan menggerutu dan bersama-sama gelisah kesakitan. Kini semua mahluk Allah untuk selama-lamanya lepas daripada kehadirannya dan gangguannya  ............Maka sebuah suara pujian dan kemenangan naik dari seluruh alam yang setia. ‘Suara orang-orang yang beramai-ramai seperti bunyi banyak air yang menderu, dan seperti bunyi guntur yang besar-besar terdengar mengatakan: Halleluyah, karena Tuhan kita, Allah yang maha kuasa memerintah.”  --- The Great Controversy, p. 673.

         

           Tuhan Allah belum pernah sedetikpun berhenti memerintah.  Oleh sebab itu, maka ucapan di atas itu: ‘Halleluyah, karena Tuhan  kita, Allah Yang Maha Kuasa’ memerintah, menunjukkan bahwa Kristus baharu saja menanggalkan jubah keimmatan-Nya untuk kembali mengenakan jubah kebesaran-Nya  sebagai Raja.  Peristiwa inilah yang akan jadi pada akhir masa kasihan atau pada akhir Sidang Pengadilan Sorga yang akan datang. Jadi jelaslah, bahwa  semenjak dari kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa sampai kepada berakhirnya Sidang Pengadilan Sorga yang akan datang, akan genap masa 6.000 tahun bumi dimana umat Allah berada dalam  genggaman dosa.

 

          Seperempat bumi ialah seperempat dari 6.000 tahun = 1.500  tahun. Karena Kristus sendiri telah menjadi korban pembunuhan yang pertama dalam sejarah dari kuda kelabu itu sejak tahun 31 TM  yang lalu, maka seluruh masa seperempat bumi itu akan dihitung semenjak dari tahun kematian-Nya itu sampai kepada kira-kita tahun  1530, saat mana Martin Luther telah muncul dengan apa yang dikenal sebagai “Augsburg Confession”, yaitu sebuah dokumen yang disusun oleh Luther dan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Augsburg kepada Raja Charles V dalam tahun  1530 ---- tepatnya 1500 tahun sesudah kebangkitan Kristus. Sejak itulah kuasa Romawi mulai berkurang. Reformasi Luther itulah yang telah mengakhiri masa aniaya panjang yang diderita umat Kristen selama zaman kegelapan agama di bawah penindasan Gereja  Romawi yang lalu.

 

          Ternyata kuasa telah dikaruniakan kepada k e d u a n y a, yaitu  Yahudi dan Romawi untuk membunuh Jesus dalam sejarah permulaan dari kuda kelabu itu, dan kemudian kuasa juga telah dikaruniakan kepada  k e d u a n y a, yaitu para pemuka  Kristen  dan para elite politik Romawi untuk membunuh dan menganiaya berjuta-juta umat Kristen selama zaman kegelapan agama yang lalu di bawah penindasan dari Gereja Romawi.          

 

Lambang Dari Meterai Yang Kelima

 

            Maka setelah Ia membuka meterai yang kelima, aku tampak di bawah medzbah jiwa-jiwa dari mereka yang telah mati dibunuh karena sebab Firman Allah dan karena Kesaksian yang dipegangnya; maka mereka itu berseru dengan suara besar, katanya : ‘Berapa lamakah lagi ya Tuhan yang suci dan benar, tiada Engkau mengadili dan membalas semua darah kami ke atas mereka yang tinggal di bumi itu?’ Maka kepada masing-masing mereka itu dikaruniakan sebuah jubah putih; dan dikatakan kepada mereka itu, bahwa mereka hendaknya bersabar dalam sedikit masa lamanya sampai semua sesama hamba merekapun  dan semua saudara mereka  yang akan dibunuh seperti mereka itu akan digenapi.”  --- Wahyu 6 : 9 - 11.

 

 

            Jiwa-jiwa itu berteriak dari bawah medzbah, tempat dari mana  kebenaran milik Tuhan Allah disalurkan. Ini membuktikan bahwa mereka itu dibunuh karena keteguhan mereka mempertahankan firman Allah, dan karena sebab kesetiaan mereka itulah mereka telah dikaruniakan jubah-jubah putih ---- mereka telah dinilai pantas bagi hidup yang kekal. Bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mati sahid dari masa periode sebelumnya, masa periode dari meterai yang keempat, jelas terlihat dari kenyataan bahwa mereka itu sudah mati pada waktu meterai yang kelima dibuka.

 

          Adanya jiwa-jiwa itu di bawah medzbah menunjukkan bahwa mereka itu telah melepaskan hidup mereka karena sesuatu alasan yang sama dengan alasan yang dianut oleh para martir selama Reformasi Protestan. Pertanyaan yang berbunyi : “Berapa lama ya Tuhan, yang suci dan benar, belum juga Engkau mengadili?”  Serta dari jawaban yang berbunyi : “Bahwa mereka harus beristirahat sedikit masa lagi, sampai  saudara-saudara sesama hambanya dan saudara-saudara mereka yang akan dibunuh  seperti mereka itu akan digenapi,”  menunjukkan bahwa aniaya dan mati sahid dari meterai yang keempat itu akan meliputi juga meterai yang kelima, dan bahwa  Pengadilan terhadap orang-orang yang mati sahid itu tidak akan dimulai sebelum aniaya itu berakhir.

 

Lambang Dari Meterai Yang Keenam

 

            Maka aku tampak setelah Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, maka heran, terjadilah suatu gempa bumi yang besar, dan matahari menjadi hitam seperti suatu kain kabungan daripada rambut, dan bulan menjadi seperti darah, dan bintang-bintang di langit berguguran ke bumi seperti pohon ara meluruhkan buah-buah buruknya apabila iaitu digoncangkan angin yang keras.”  --- Wahyu 6 : 12, 13.

 

 

            Semua yang diramalkan di atas secara fisik sudah digenapi dalam sejarah yang lalu. Pada 1 Nopember 1755 telah terjadi gempa bumi yang besar di  Lisabon. Menyusul kemudian pada 19 Mei 1780 matahari telah digelapkan, dan bulan tampak seperti darah pada malam berikutnya. Kemudian telah datang berguguran bintang-bintang, yaitu hujan meteor yang besar sekali pada 13 Nopember 1833. Semuanya ini dapat dibaca di dalam buku The Great Controversy, pp. 304 - 309, 333, 334.

 

          Namun karena kita kini masih berada dalam masa periode dari meterai yang keenam, dan karena sebentar lagi akan datang hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu di dalam Sidang Jemaat Laodikea, maka tanda-tanda alam di atas itu tak dapat tiada masih melambangkan beberapa peristiwa penting yang masih akan digenapi di depan, yang patut diwaspadai oleh semua umat.

 

          Gempa bumi itu melambangkan kegoncangan besar yang akan datang, yaitu penyaringan di antara bangsa-bangsa, seperti yang diramalkan di bawah ini:

 

          Bahwa sesungguhnya nama Tuhan itu datang dari jauh, bernyala-nyala dengan murka-Nya dan bebannya itu berat sekali. Bibir-Nya penuh dengan geram, dan lidah-Nya seperti suatu api yang memakan habis; dan nafas-Nya seperti suatu aliran sungai yang  meluap airnya, akan sampai ke tengah leher, untuk menyaring bangsa-bangsa dengan saringan kebinasaan; maka akan terdapat suatu kekang di dalam rahang orang banyak itu, yang membuat mereka itu keliru.” “Maka pohon-pohon ara akan digoncangkan dengan amat sangat.”  --- Jesaya 30 : 27, 28; Nahum 2 : 3.

 

          Kegelapan matahari itu akan memperlihatkan berakhirnya Injil, yaitu berakhirnya kesempatan bertobat bagi Sidang Jemaat  Laoadikea, yaitu masa dimana orang “akan berlarian ke sana kemari mencarikan Firman Tuhan, tetapi tidak akan menemukannya.”  “Karena sesungguhnya kegelapan akan menutupi bumi, dan kegelapan yang pekat menutupi orang banyak itu.” --- Amos 8 : 12;  Jesaya 60 : 2.

 

          Bulan yang digabungkan dengan matahari merupakan simbol yang cocok bagi kelompok anak-anak dara yang bijaksana itu di waktu ini untuk memberitakan firman kebenarannya di dalam Sidang Jemaat Laodikea. Berubahnya bulan menjadi darah menyusul gelapnya matahari itu tak dapat tiada menunjukkan bahwa tugas mereka sudah berakhir. Untuk itulah hamba Tuhan mengatakan :

 

          Demikian itulah kelak puncak Karmel akan layu, dan mereka  yang tidak  mematuhi firman yang bebunyi, ‘Pada hari ini jika engkau mendengar suara-Nya, janganlah  mengeraskan hatimu,’ akhirnya akan gempar karena kesempatan mereka untuk menyambut kebenaran  sudah lepas.  Kemudian dalam kecemasan yang terburu-buru mereka berusaha memperkenalkan dirinya  kepada kebenaran sekarang yang keluar dari puncak Karmel, namun secara mengejutkan mereka akan menemukan bahwa Karmel sudah menyelesaikan tugasnya, para penghuninya sudah pindah, dan masa kasihan sudah berakhir, pada waktu mana  para penghuni Karmel  hanya dapat mengulangi kata-kata: ‘Penuaian sudah berlalu, musim panas sudah berakhir, dan kami tidak lagi memiliki apa-apa bagimu.”  -- The Symbolic Code, vol. 1, No. 14, Agustus 1935, hal. 5 - 7.

 

Catatan : “Puncak Karmel melambangkan Pusat Pekabaran ini yang beralamat di Waco, Texas, Amerika Serikat.

 

          Kemudian bintang-bintang yang berguguran itu merupakan nada dari hari Tuhan yang besar dan mengerikan yang akan datang, yaitu hari dimana “segala langit .....akan berlalu“ (2 Petrus 3 : 10), hari dimana semua penghuninya akan dibubarkan, dan dimana Iblis  berikut malaikat-malaikatnya, juga semua orang jahat di dalam Sidang Jemaat Laodikea maupun di luar, “akan berjatuhan seperti daun  yang  jatuh dari pokok anggur, dan seperti buah ara yang jatuh dari batangnya.”  Yahya 34 : 4.

 

          Akan ada kelak suatu kegoncangan di antara umat Allah, tetapi ini bukan disebabkan oleh kebenaran sekarang yang dibawakan kepada gereja-gereja.  Iaitu adalah akibat dari penolakan terhadap kebenaran yang ditawarkan.

         

          “Para pendeta hendaknya tidak merasa bahwa mereka sudah memiliki beberapa pendapat yang maju yang mentaajubkan, maka jika tidak mereka semua menerima sekaliannya ini, mereka akan digoncangkan keluar, dan suatu umat akan bangkit maju ke depan dan ke atas sampai mencapai kemenangan.” 2 Selected Messages, p. 13.

 

          Maka langit itu menghilang seperti sebuah gulungan surat apabila iaitu tegulung; dan setiap gunung dan pulau berpindah keluar daripada tempat-tempatnya. Maka semua raja di bumi, dan orang-orang  besar, dan orang-orang kaya, dan para panglima, dan orang-orang perkasa, dan setiap hamba, maupun setiap orang yang merdeka, sekalian mereka menyembunyikan dirinya di dalam gua-gua dan di dalam batu-batu karang, sambil mengatakan kepada gunung-gunung dan batu-batu karang itu, ‘Timpalah kami, dan sembunyikanlah kami daripada  wajah Dia  yang duduk di atas tahta  itu, dan dari pada murka Anak Domba  itu;  karena hari besar murka-Nya  itu sudah tiba, maka siapakah  yang mampu tahan berdiri ?’” --- Wahyu 6 : 14 - 17.

 

          Ayat-ayat itu menggambarkan nasib, ketakutan, pikiran yang terpukul dari semua orang yang tidak akan mampu berdiri pada hari Pengadilan Orang-Orang Hidup yang akan datang. Karena hari itu kelak merupakan hari Tuhan yang besar bagi mereka yang luput, tetapi merupakan hari yang mengerikan bagi mereka yang akan dibantai dalam rangka pembersihan kaabah yang akan datang. Juga di dalam ayat-ayat itu (Wahyu 6 : 14 - 17) ROH NUBUATAN   menunjukkan bahwa: Dua kelompok akan dihadapkan ke depan. Kelompok yang satu membiarkan diri mereka disesatkan, lalu berpihak kepada orang-orang yang dimusuhi Tuhan. Mereka memutar balikkan pengertian dari pekabaran-pekabaran yang telah dikirimkan kepada mereka, lalu memakaikan diri mereka dengan jubah-jubah kebenarannya sendiri.”  --- Testimonies, vol., 9, p. 268.

         

          Akhirnya perlu kiranya diperhatikan bahwa semua peristiwa yang berkaitan dengan Pengadilan Orang Mati, khususnya yang berkenan dengan meterai yang keenam akan berakhir dengan  Wahyu pasal 6. Selanjutnya Wahyu pasal 7 akan membicarakan berbagai persiapan menghadapi akan dibukanya meterai yang ketujuh itu. Yahya Pewahyu selanjutnya menuliskannya sebagai berikut :

 

          Maka kemudian dari semua perkara ini aku tampak empat malaikat berdiri pada empat penjuru bumi, memegang empat angin  di bumi, supaya jangan angin-angin itu bertiup atas bumi, atau atas laut, ataupun atas sesuatu pohon kayu.

 

          “Maka aku tampak pula seorang malaikat lain yang naik dari sebelah timur, memegang meterai dari Allah yang hidup; maka ia berteriak dengan suara besar kepada empat malaikat itu, yang telah dikaruniakan kuasa untuk merusakkan bumi, dan laut, katanya:  ‘Janganlah merusakkan bumi itu, ataupun laut, ataupun pohon-pohon kayu, sampai selesai kami memeteraikan hamba-hamba Allah kita pada dahi-dahi mereka. Maka aku dengar bilangan mereka itu yang dimeteraikan; maka telah dimeteraikan seratus empat puluh empat ribu orang dari semua suku bangsa bani Israel.” -- Wahyu 7 : 1 - 4.

 

          Empat angin itu melambangkan amarah orang-orang jahat  yang akan datang dari keseluruhan empat penjuru bumi melawan  umat kesucian Allah. Dan empat malaikat itu melambangkan empat malaikat pembinasa dari pihak Tuhan Allah. Seorang malaikat lain yang naik dari sebelah timur, yang membawa meterai dari Allah yang hidup itu berteriak dengan suara besar kepada empat malaikat pembinasa itu agar menahan dulu angin-angin itu sampai mereka 144.000 hamba-hamba Allah itu dimeteraikan. Apakah artinya ini ?

 

          Dari ROH NUBUATAN itu juga dapat diketahui, bahwa  malaikat yang naik dan berteriak dari sebelah timur itu telah menemui kegenapan sejarahnya pada pribadi hamba Allah Nyonya Ellen G. White, yang telah muncul dalam tahun 1844 di kota Portland, Maine, Amerika Serikat sebelah timur, dengan pekabarannya yang pertama sekali perihal pemeteraian mereka 144.000 umat pilihan Allah itu.  Dalam bahasa nubuatan Wahyu, malaikat itu baharu saja n a i k dari sebelah timur, artinya, nubuatan perihal mereka 144.000 itu baharu  mulai diungkapkan kepada nabi Ellen G. White dalam khayalnya yang pertama di kota yang terletak di sebelah timur bumi Amerika Serikat itu.

         

          Karena peristiwa munculnya mereka 144.000 umat pilihan Allah yang akan datang kelak merupakan peristiwa sejarah besar yang meliputi berdirinya kerajaan Daud, turunnya Jesus di Gunung Sion, Palestina, datangnya hari Pentakosta yang kedua, serta dimulainya masa Sidang Pengadilan Orang-Orang Hidup di dalam kaabah kesucian sorga, dan lain-lain, maka kebenaran perihal pemeteraian mereka 144.000 umat Allah itu tak dapat tiada masih harus juga terungkap melalui berbagai nubuatan dan perumpamaan-perumpamaan Jesus yang lainnya. Itulah sebabnya, maka dalam bahasa nubuatan Wahyu, seluruh kebenaran perihal 144.000 umat Allah itu baharu akan terungkap apabila malaikat yang naik dari sebelah timur itu sudah turun di bumi. 

                                               

 

            Malaikat yang melambangkan pekabaran dari sorga itu ternyata  baharu turun kemudian di Los Angeles, California, Amerika Serikat sebelah barat, dalam tahun 1929 dengan Victor T. Houteff sebagai   n a b i, yang telah mengungkapkan seluruh permasalahan 144.000  umat Allah itu dari berbagai sudut pandangnya di dalam Alkitab. Dari  berbagai ungkapan kebenarannya itu juga dapat diketahui, bahwa  kita kini masih berada dalam masa pemeteraian itu, sementara angin-angin yang melambangkan amarah orang-orang jahat itu masih terus ditahan. Namun kepada kita telah diperingatkan   :

 

          Saudara-Saudaraku yang kekasih, hendaklah kiranya  perintah-perintah Allah dan Kesaksian Jesus Kristus itu senantiasa berada di dalam pikiranmu, dan hendaklah sekaliannya itu mengusir keluar semua ingatan dan perhatian keduniawian. Apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun, hendaklah perintah-perintah Allah dan Kesaksian Jesus Kristus itu selalu menjadi renunganmu. Hidupkan dan bertindaklah sepenuhnya sambil memandang kepada kedatangan Anak Manusia itu. Masa pemeteraian itu adalah sangat singkat, dan akan segera berakhir. Kinilah waktunya, selagi empat malaikat itu masih menahan empat angin-angin itu, untuk menjamin dan memastikan panggilan dan pemilihan kita.” --- Early Writings, p. 58.

 

          Segera setelah terlaksana pemeteraian hamba-hamba Allah itu  di dalam Sidang Jemaat Laodikea, maka segera pula angin-angin itu akan mulai dilepaskan. Mereka 144.000 itu sudah harus terlebih dulu mengalami masa kesusahan besar itu akibat dari perbuatan angin-angin itu. Namun jauh-jauh hari sebelumnya nabi Daniel telah menegaskan bahwa :

 

          Maka pada waktu itu akan bangkit berdiri Mikhail, penghulu besar itu  yang akan membela bani bangsamu; maka akan ada kelak suatu masa kesusahan besar, yang sedemikian itu belum pernah ada semenjak dari berdirinya sesuatu bangsa sampai kepada masa itu; maka pada masa itu bangsamu  akan  diluputkan, yaitu  setiap orang yang akan ditemukan n a - m a n y a terdaftar di dalam k i t a b.” --  Daniel 12 : 1.

 

          Mikhail = yang sama dengan Allah. Yang akan mengalami masa kesusahan besar yang akan datang ialah bangsanya nabi Daniel, yaitu bangsa Iberani. Ucapan nubuatan dari nabi Daniel itu tak dapat tiada akan digenapi pada mereka 144.000 Israel akhir zaman yang akan datang itu saja. Namun semua mereka itu akan diluputkan karena nama-nama mereka itu sudah tercatat di dalam buku kehidupan di dalam Sidang Pengadilan Sorga. 

 

          Yang tersisa dari Wahyu Jesus Kristus itu akan kita jumpai di dalam,

 

Lambang Dari Meterai Yang Ketujuh

 

            “Maka setelah Ia membuka meterai yang ketujuh itu, sunyi senyaplah di dalam sorga kira-kira setengah jam lamanya. Maka aku tampak tujuh malaikat yang berdiri di hadapan Allah itu; dan kepada mereka telah dikaruniakan tujuh buah trompet.

 

          “Maka datanglah seorang malaikat yang lain lalu berdiri pada  sisi medzbah itu sambil memegang  sebuah perukupan emas; maka telah diberikan kepadanya banyak kemenyan supaya ia mempersembahkan  itu  bersama-sama dengan doa-doa dari segala orang suci pada medzbah keemasan itu yang ada di hadapan tahta. Maka asap kemenyan yang keluar bersama-sama dengan doa-doa  dari segala orang suci itu naiklah ke hadapan Allah dari tangan  malaikat itu.

 

          “Maka malaikat itu pun mengambil perukukan emas itu, lalu diisinya akan dia dengan api dari medzbah itu, lalu mencampakkannya ke bumi, maka terdengarlah suara-suara, dan bunyi guruh, dan kilat, dan suatu gempa bumi. Lalu tujuh malaikat yang memegang tujuh trompet itu mempersiapkan diri untuk meniup.” -- Wahyu 8 : 1 - 6.

 

          Satu hari nubuatan = satu tahun bagi kita (Yerhezkiel 4 : 6  akhir). Jadi, sunyi senyap selama kira-kira setengah jam di dalam  kaabah kesucian sorga itu adalah sama dengan kira-kira 7 hari bagi kita. Selama itu suara-suara yang mengucapkan ‘suci, suci, suci, Tuhan Allah yang maha kuasa, guntur-guntur dan kilat-kilat yang sambar menyambar itu berhenti untuk selama kira-kira 7 hari lamanya. Iaitu menunjukkan bahwa Sidang Pengadilan pertama yang mengadili umat kesucian yang sudah mati berakhirlah sudah.  Kemudian menyusul tujuh malaikat yang lain diberikan tujuh trompet untuk ditiup. Masalah tujuh trompet itu akan diungkapkan di lain kesempatan.

 

          Selama kira-kira tujuh hari lamanya Jesus sebagai Anak Domba Allah akan berada di gunung Sion di Palestina bersama-sama dengan mereka 144.000 itu (Wahyu 14 : 1) dalam rangka peresmian Kerajaan Daud serta untuk memenuhi janji-Nya untuk sama-sama makan perjamuan suci di sana, mendahului dicurahkan-Nya Roh Suci Hujan Akhir ke atas mereka. Sebelum kembali ke sorga dalam tahun 31 TM yang lalu Jesus pernah membuat janji-Nya  sebagai berikut :

 

          “Karena Aku mengatakan kepadamu, Aku tidak akan lagi  memakannya sampai iaitu kelak digenapi di dalam kerajaan Allah. ............... Karena aku mengatakan kepadamu, Aku tidak akan lagi minum dari buah anggur itu, sampai kelak kerajaan Allah itu datang.” Lukas 22 : 16, 18. ROH NUBUATAN juga menuliskannya  kemudian:

 

          “Tetapi Aku mengatakan kepadamu, Aku tidak akan lagi minum  mulai sekarang dari buah anggur ini, sampai kelak hari itu apabila Aku meminumnya kembali bersama kamu di dalam Kerajaan Bapa-Ku.” --- The Desire of Ages, p. 653, par. 4.

 

          Sebagaimana halnya dalam peristiwa contoh yang lalu, maka dalam peristiwa contoh saingan yang akan datang Jesus akan lebih dulu kembali ke sorga, baharu kemudian menuangkan Roh Suci Hujan Akhir itu ke bumi. Jadi setelah kembali bertugas di depan medzbah keemasan itu baharu genaplah ucapan Yahya Pewahyu  pada Wahyu 8 : 3 - 5 itu.

 

          “Lalu malaikat (yang melambangkan Jesus) itu mengambil perukupan itu, dan mengisinya dengan a p i dari medzbah, lalu menuangkannya ke bumi, maka terjadilah bunyi suara-suara, dan  guntur-guntur, dan kilat-kilat yang sambar menyambar, dan suatu gempa bumi.” -- Ayat 5.

         

          Api dari medzbah yang melambangkan Roh Suci Hujan Akhir itu ternyata telah menghantarkan bunyi-bunyi itu ke bumi ini secara terbalik. Jika pada permulaan Sidang Pengadilan terhadap Orang mati urutan bunyi-bunyi itu sesuai Wahyu 4 : 5 adalah : kilat-kilat yang sambar menyambar, dan guntur-guntur, dan suara-suara;  maka api dari medzbah itu ternyata telah menghantarkan bunyi-bunyi itu ke bumi ini dengan urutannya yang terbalik: suara-suara, bunyi guntur, dan kilat-kilat yang sambar menyambar, disertai tambahan sebuah gempa bumi. Ini membuktikan, bahwa Sidang Pengadilan Orang-Orang Hidup yang akan datang tidak hanya berlangsung di dalam kaabah kesucian sorga, melainkan juga berlaku terhadap semua umat kesucian Allah yang di bumi ini. Inilah yang akan terungkap dari semua pasal yang sisanya dari buku Wahyu itu sesudah pasal-pasal yang khusus membicarakan pembukaan dari meterai yang ketujuh itu dibicarakan di sini. Sisa ayat-ayat dari Wahyu pasal 8, berikut pasal 9 - 11 itu menggambarkan kepada kita perihal tujuh trompet. Interpretasinya yang lengkap dan terinci dapat dibaca di dalam ROH NUBUATAN.

 

Selama Sidang Pengadilan Orang-Orang Hidup

Yang Akan Datang

 

Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut  :

 

          Benar, tugas dari Sidang Pengadilan yang kedua itu meliputi juga kaabah kesucian bumi ini, yaitu G E R E J A. Pada waktu itu 'a p i ' milik Tuhan itu berada di ‘Sion, dan dapur api-Nya di Jerusalem.’   Yesaya 31 : 9.

 

          “Maka banyak bangsa akan datang, dan mengatakan: ‘Datanglah, dan marilah kita naik ke gunung Tuhan, dan ke rumah  Allah Yakub itu; maka Ia akan mengajarkan kepada kita segala jalan-Nya, dan kita akan berjalan di dalam lorong-lorong-Nya; karena Hukum akan terbit dari Sion, dan Firman Tuhan dari Yerusalem.

 

          “Maka Ia akan mengadili di antara banyak umat, dan Ia akan menghukum bangsa-bangsa yang kuat yang jauh-jauh; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi penggali tanah, dan semua tombaknya menjadi sabit. Bahwa bangsa tidak akan menghunus pedang melawan bangsa, dan tiada lagi mereka itu belajar berperang. Melainkan mereka akan duduk masing-masingnya di bawah pokok anggurnya dan di bawah pokok aranya, dan tidak seorangpun kelak akan menakut-nakuti mereka itu, karena mulut  Tuhan serwa sekalian alam telah membicarakannya.” --- Mikha 4 : 2 - 4.

 

          “..........kemudian Ia akan duduk di atas tahta kemuliaan-Nya; dan di hadapan-Nya akan berhimpun segala bangsa; maka Ia akan memisahkan mereka itu satu daripada lainnya, seperti halnya seorang gembala memisahkan domba-dombanya dari antara  kambing-kambing; maka Ia akan menaruh domba-domba itu pada sebelah kanan-Nya, tetapi kambing-kambing itu pada sebelah kiri. Kemudian Raja itu akan mengatakan kepada mereka pada sebelah kanan-Nya: Marilah kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, warisilah Kerajaan yang telah disediakan bagimu semenjak dari permulaan dunia. ..............

 

          “Kemudian Ia akan mengatakan juga kepada mereka pada sebelah kiri: Enyahlah kamu daripada-Ku, hai kamu yang terkutuk, masuklah ke dalam api yang kekal, yang telah disediakan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya.” --- Matius 25 : 31 - 34, 41.

 

          Maka kerajaan dan pemerintahan, dan kebesaran kerajaan itu di bawah seluruh langit akan dikaruniakan kepada umat kesucian dari Dia Yang Maha Tinggi, yaitu  Dia Yang  Kerajaan-Nya  ialah sebuah kerajaan  yang kekal, maka semua pemerintahan akan melayani dan mematuhi Dia. Sampai di sinilah perkara itu berakhir ............................” Daniel 7 : 27, 28.” --- Dikutip dari buku ‘To the Seven Churches’, pp. 65 – 67.

 

          Dan setelah trompet-trompet itu ditiup satu menyusul yang lainnya, maka pada akhirnya sampailah kita pada peniupan trompet yang ketujuh (b u k a n pada pemecahan meterai yang ketujuh). Lalu terdengarlah suara-suara besar di dalam sorga yang mengatakan : “Kerajaan - kerajaan dunia ini kini menjadi kerajaan-kerajaan dari Tuhan kita, dan dari Kristus-Nya;  maka Ia akan memerintah untuk selama-lamanya.”  -- Wahyu 11 : 15.

 

Di sinilah Sidang Pengadilan sorga itu berakhir. Jesus kemudian menanggalkan jubah keimmamatan-Nya, lalu kembali mengenakan jubah kebesaran-Nya sebagai R a j a. Berakhirlah masa kasihan (the time of probation) bagi seluruh penduduk bumi untuk bertobat.

           

K e s i m p u l a n

 

            Sewaktu buku-buku catatan dibuka di dalam sidang pengadilan itu, maka kehidupan dari semua yang telah percaya pada Jesus muncul terbuka di hadapan Allah. Pembela kita menyampaikan  perkara-perkara mereka dari masing-masing generasi secara berurutan, dimulai dengan mereka yang pertama sekali hidup di bumi ini, dan berakhir dengan orang-orang yang hidup. Setiap nama disebut, dan setiap perkara diperiksa dengan teliti. Ada nama-nama  yang diterima, ada nama-nama yang ditolak.” --- The Great Controversy, p. 483.

 

          Perlu sekali diperhatikan bahwa yang diadili pada Sidang  Pengadilan  itu  h a n y a l a h umat Allah, yaitu semua mereka yang nama-namanya ada terdaftar di dalam buku kehidupan di dalam kaabah kesucian sorga. Setiap nama disebut, dan setiap perkara diperiksa dengan teliti. Bagi nama-nama yang diterima, nama-nama itu akan tetap dipertahankan di dalam buku kehidupan. Sebaliknya, mereka yang nama-namanya ditolak, nama-nama itu akan dialihkan ke dalam buku kematian, untuk kemudian dihadapkan sekali lagi kepada Sidang Pengadilan Orang Jahat, yang baharu akan bersidang dalam masa seribu tahun millenium, setelah kedatangan Jesus kedua kali yang akan datang.

 

          Di dalam Sidang Pengadilan Orang Jahat itulah baharu akan ditetapkan berat - ringannya hukuman yang akan dikenakan kepada pelakunya yang bersangkutan. Dan eksekusi hukumannya itu baharu akan dilakukan sesudah seribu tahun millenium yang akan datang, setelah Tuhan Allah sendiri menurunkan a p i dari langit untuk membakar habis semua orang jahat berikut Setan dan malaikat-malaikatnya di bumi ini. Hamba Tuhan menuliskannya di dalam ROH NUBUATAN sebagai berikut  :

 

          “Selama seribu tahun di antara kebangkitan yang pertama dan kebangkitan yang kedua akan berlangsung pengadilan terhadap orang-orang jahat. Rasul Paulus menunjuk kepada pengadilan ini sebagai suatu peristiwa yang akan menyusul kedatangan Jesus yang kedua kali. .......... Daniel menyatakan bahwa apabila Yang Tiada Berkesudahan Hari-Nya itu datang, maka “pengadilan akan diberikan kepada  umat kesucian dari Yang Maha Tinggi.” Daniel 7 : 22.  Pada waktu inilah orang-orang benar akan memerintah bagaikan raja-raja dan imam-imam bagi Allah. Yahya di dalam buku Wahyu mengatakan:  “ Aku tampak tahta-tahta, dan mereka itu duduk pada tahta-tahta itu, lalu pengadilan  diberikan kepada mereka.”   “Mereka akan menjadi imam-imam Allah dan imam-imam Kristus, dan mereka akan memerintah bersama-Nya seribu tahun lamanya.” Wahyu 20 :  4, 6. Pada waktu itulah maka sebagaimana yang diramalkan oleh Paulus, “umat kesucian itu akan menghakimi dunia.”  1 Korinthus 6 : 2. Bersama Kristus mereka akan menghakimi orang-orang jahat,  membanding-bandingkan perbuatan-perbuatan mereka itu dengan kitab perundang-undangan, yaitu Alkitab, lalu memutuskan setiap perkara sesuai dengan semua perbuatan yang dilakukan pada tubuh.  Kemudian bagian yang harus dipikul oleh orang jahat itu akan ditetapkan, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka; dan iaitu akan tercatat di samping nama-nama mereka itu di dalam buku kematian.

 

          Juga Setan berikut malaikat-malaikat jahat akan dihakimi oleh Kristus dan umat-Nya. Paulus mengatakan: “Tidak tahukah kamu  bahwa  kita  akan  kelak menghakimi melaikat-malaikat ?”  Ayat 3.  ..........

 

          “Pada akhir dari seribu tahun itu akan terjadi kebangkitan yang kedua.  Pada waktu itulah orang-orang jahat akan dibangkitkan lalu muncul ke hadapan Allah untuk menghadapi eksekusi hukuman  yang tertulis. Demikian itulah yang diucapkan Pewahyu setelah melukiskan  kebangkitan dari orang-orang benar  itu  sebagai berikut:  “Orang-orang mati yang sisanya itu tidak akan hidup kembali  sebelum seribu tahun itu berakhir.” Wahyu 20 : 5.” ---- The Great Controversy, pp. 660 - 661.

 

           Orang-orang jahat itu akan menerima pembalasannya di bumi. -- Amzal Solaiman 11 : 31. Mereka ‘akan menjadi jerami : maka hari yang akan datang itu akan membakar habis mereka, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.’ -- Maleakhi 4 : 1. Sebagian orang akan binasa hanya dalam sekejab, sementara orang-orang lainnya akan menderita berhari-hari. Semua akan dihukum sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka. Karena dosa-dosa orang benar itu telah dialihkan kepada Setan, maka ia akan dibuat menderita bukan saja untuk pendurhakaannya sendiri, melainkan juga untuk semua dosa-dosa yang oleh perbuatannya semua umat Allah telah ikut terlibat. Hukumannya akan jauh lebih berat daripada yang akan dipikul oleh orang-orang yang telah disesatkannya.”  --- The Great Controversy, p. 673.

 

 

 

*  *  *