Pembantaian  dari 

Nubuatan  Jehezkiel  Pasal  9

Yang  Akan  Datang

 

 

 

 

Nabi Jehezkiel menubuatkannya sebagai berikut :

 

“Dia berseru juga pada telingaku dengan suara nyaring, katanya: ‘Suruhkanlah mereka yang bertugas menjaga kota itu untuk datang ke sini, yaitu setiap orang dengan senjata pembantainya di tangannya. Maka, tengok datanglah enam orang dari jalan pintu gerbang yang lebih tinggi, yang terletak arah ke utara, masing-masingnya dengan sebuah alat pembantai di tangannya; maka salah seorang dari antara mereka itu berpakaian linen dan di sisinya terdapat suatu alat penulis; lalu masuklah mereka dan berdiri di sisi medzbah tembaga. Maka kemuliaan Allah dari Israel sudah naik dari atas cherub, tempatnya yang semula, ke ambang pintu rumah itu. Lalu dipanggilnya orang yang berpakaian linen itu, yang mempunyai alat penulis di sisinya. Lalu firman Tuhan kepadanya: ‘Berjalanlah di tengah-tengah kota, sepanjang tengah-tengah Jerusalem, dan bubuhlah suatu tanda pada dahi-dahi orang-orang yang berkeluh kesah dan berteriak karena sebab segala perbuatan keji yang dilakukan di tengah-tengahnya. Dan kepada yang lainnya katanya pada pendengaranku: Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu lalu bunuhlah. Janganlah matamu menaruh sayang dan jangan kenal belas kasihan. Bunuhlah seluruhnya, baik orang-orang tua maupun orang-orang muda, baik anak-anak dara maupun anak-anak kecil dan perempuan-perempuan. Tetapi janganlah menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu. Dan mulailah pada kaabah kesucianku. Lalu mulailah mereka terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah itu Kemudian katanya  kepada mereka itu: Najiskanlah rumah itu dan penuhilah semua serambinya dengan orang-orang yang terbunuh itu. Keluarlah kamu! Lalu keluarlah mereka itu, dan membunuh di dalam kota. Maka terjadilah kemudian, sementara mereka itu membunuh orang-orang itu, dan aku dibiarkannya hidup, sehingga aku bersujud dengan mukaku ke tanah, lalu berseru, kataku: ‘Ya Tuhan Hua, hendakkah  Engkau membinasakan seluruh Israel yang sisa dalam mencurahkan amarah-Mu ke atas Jerusalem? Jawab-Nya kepadaku: Kejahatan dari isi rumah Israel dan Jehuda sudah sangat besar, maka negeri itu adalah penuh darah dan kota itu penuh ketidak-adilan; sebab kata mereka: ‘Tuhan sudah meninggalkan tanah ini, dan Tuhan tidak melihatnya. Karena sebab itu aku juga tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Kelakuan mereka itu akan Ku timpakan atas kepala mereka. Maka, tengoklah, orang yang berpakaian linen dan yang mempunyai alat penulis di sisinya itu memberi laporan, katanya: ‘Aku sudah melaksanakan sesuai yang Engkau perintahkan kepadaku.” --- Jehezkiel  9 : 1 – 11.

     

Nabi Jehezkiel berasal dari kerajaan Jehuda. Nubuatan Jehezkiel di atas ini diperolehnya  dalam  khayal  setelah ia  bersama  raja  Jojachin  selama hampir  lima  tahun lamanya menjadi tawanan dari kerajaan Babilon. Baca : Jehezkiel 1 : 1 – 3.  Ini berarti Kerajaan Israel dari sepuluh suku bangsa itu sudah lebih dulu tercerai-berai ke seluruh dunia setelah dihancurkan oleh kerajaan Assyiria pada tahun 721 s. TM. Sedangkan kerajaan Jehuda dari dua suku bangsa yang sisanya baharu kemudian dikalahkan oleh Babilon pada tahun 587 s. TM.  Jadi jelaslah bahwa semua nubuatan dari nabi Jehezkiel tidak mungkin lagi meramalkan ke belakang, melainkan harus ke depan meramalkan nasib dari seluruh Israel yang sisa, yaitu isi rumah Israel dan Jehuda yang melambangkan umat Masehi Advent Hari Ketujuh di akhir zaman.

 

Dinubuatkan  kepada

Israel yang sisa, yaitu dua belas suku bangsa

Israel dan Jehuda di Akhir Zaman

 

Dari Jehezkiel 9 : 8 dan 9 yang berbunyi: Maka terjadilah kemudian, sementara mereka itu membunuh orang-orang itu, dan aku dibiarkannya hidup, sehingga aku bersujud dengan mukaku ke tanah, lalu berseru, kataku: ‘Ya Tuhan Hua, hendakkah  Engkau membinasakan seluruh Israel yang sisa dalam  mencurahkan amarah-Mu ke atas Jerusalem? Jawab-Nya kepadaku: Kejahatan dari isi rumah Israel dan Jehuda sudah sangat besar, maka negeri itu adalah penuh darah dan kota itu penuh ketidak-adilan;…” nabi Jehezkiel bertanya :’Oh Tuhan, maukah Engkau membinasakan seluruh Israel yang sisa ?’ Tuhan Allah menjawab: ‘Kejahatan dari isi rumah Israel dan Jehuda sudah sangat besar.’

 

Tuhan Allah sendiri telah menegaskan, bahwa seluruh Israel yang sisa, yaitu i s i rumah Israel dan Jehuda, dari dua belas suku bangsa bani Israel, akan dibantai. Karena semenjak dari buku Jehezkiel itu ditulis sampai kepada hari ini, isi rumah Israel dan Jehuda (dua belas suku bangsa) itu sudah tidak lagi u t u h dikenal sebagai umat Allah,  maka nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu tak dapat tiada ditujukan h a n y a kepada Israel akhir zaman, yaitu umat Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai contoh saingannya. Inilah alasannya, maka dalam  mengomentari pemeteraian mereka 144.000 hamba-hamba Allah yang akan datang, hamba Tuhan Nyonya White telah mengeluarkan penegasannya sebagai berikut :

 

“Pemeteraian hamba-hamba Allah ini adalah s a m a dengan apa yang ditunjukkan kepada Jehezkiel dalam khayal. (Jehezkiel pasal 9). Yahya juga menyaksikan wahyu yang sangat mengejutkan ini. (Wahyu 7 : 4).” --- Testimonies to Ministers, p. 445. (Tambahan di dalam kurung dari penulis).  Artinya  pemeteraian hamba-hamba Allah yang dinubuatkan pada buku Jehezkiel pasal 9 dan Wahyu pasal 7 itu tidak mungkin sudah digenapi dalam sejarah Wasiat Lama, sebab buku Wahyu pada waktu itu belum ada. Oleh sebab itu jelaslah, bahwa pemeteraian hamba-hamba Allah itu baharu akan jadi di depan. Oleh karena yang dibicarakan pada kedua nubuatan itu adalah pemeteraian mereka 144.000 hamba-hamba Allah yang akan datang, maka Nyonya White selanjutnya mengatakan :

 

“Terutama dalam pekerjaan penghabisan bagi sidang, dalam masa pemeteraian mereka 144.000 itu, yang akan berdiri tanpa kesalahan di hadapan tahta Allah, mereka akan sangat merasakan secara mendalam berbagai kesalahan dari umat Allah. Inilah yang secara tegas dikemukakan oleh gambaran dari nabi itu yang berkenan dengan pekerjaan penghabisan di bawah gambaran orang-orang yang masing-masingnya membawa senjata pembantai di dalam tangannya. Salah seorang dari mereka itu berpakaian linen, dengan sebuah alat penulis pada sisinya. ‘Maka firman Tuhan kepadanya: ‘Pergilah ke tengah-tengah kota itu, sepanjang pusat kota Jerusalem, lalu bubuhlah sebuah tanda pada dahi orang-orang yang berkeluh-kesah dan berteriak karena sebab berbagai kekejian yang telah dilakukan di tengah-tengahnya.’”--- 3 Testimonies For The Church, p. 266.

 

Kelas orang-orang yang tidak merasa sedih atas kemerosotan rohaninya sendiri, atau meratapi dosa-dosa orang lain, mereka akan dibiarkan tanpa meterai Allah. Tuhan menugaskan kepada para utusan-Nya, yaitu orang-orang yang membawa senjata pembantai di dalam tangan mereka sebagai berikut: ‘Pergilah kamu mengikuti dia melalui kota itu, dan bunuhlah; ………… tetapi janganlah menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah pada  k a a b a h   k e s u c i a n – K u. Lalu mulailah mereka itu terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah itu.”

 

“Di sini kita saksikan bahwa  s i d a n g  --- kaabah kesucian Tuhan --- adalah yang pertama sekali merasakan pukulan dari murka Allah. Orang-orang bangsawan itu, yaitu  mereka yang telah diberikan t e r a n g   b e s a r  oleh Allah, dan yang telah berdiri sebagai pengawal-pengawal dari berbagai kepentingan kerohanian umat, t e l a h menghianati kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka. ……….. ......... A n j i n g – a n j i n g   d u n g u   yang tidak mau  menyalak atau menggonggong ini, adalah orang-orang yang akan merasakan pembalasan yang adil dari suatu Allah yang murka. Pria, wanita, dan anak-anak kecil, semuanya binasa bersama-sama.” – 5 Testimonies For The Church, p. 211.

 

“T a n d a  k e l e p a s a n  itu  ditempatkan pada orang-orang yang berkeluh-kesah dan berteriak karena sebab semua kekejian yang telah dilakukan. Kini malaikat maut itu keluar, yang dilambangkan dalam khayal dari Jehezkiel sebagai orang-orang yang membawa senjata-senjata pembantai, kepada siapa telah diperintahkan: ‘Bunuhlah seluruhnya baik tua maupun muda, baik gadis maupun anak-anak kecil, dan kaum wanita; tetapi janganlah menghampiri setiap orang yang padanya terdapat tanda itu; dan mulailah terhadap kaabah kesucian-Ku.’ Kata nabi itu: ‘Mulailah mereka itu terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah.’ Jehezkiel 9 : 1 – 6.  Pekerjaan pembinasaan itu dimulai di antara orang-orang yang mengaku sebagai pengawal-pengawal kerohanian umat. Para penjaga yang palsu itu adalah yang pertama sekali akan binasa. Tidak seorangpun  yang akan menaruh sayang ataupun menaruh belas kasihan. Pria, wanita, gadis, dan anak-anak kecil, semuanya binasa bersama-sama.” – The Great Controversy, p. 656.

 

Penjelasan dari hamba Allah Nyonya White di atas sesungguhnya sudah cukup jelas, siapa-siapa mereka itu yang akan dibantai sebentar lagi. Yang jelas harus diakui bahwa pembantaian itu akan jadi di d a l a m sidang jemaat Laodikea kita sendiri, yaitu Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di dunia ini. Pembantaian itu akan dimulai terhadap orang-orang bangsawan yang berada di depan rumah, yaitu terhadap para penguasa Organisasi Gereja kita di General Conference of Seventh-Day Adventists di Amerika Serikat. Dan kemudian kepada semua pelaku kekejian di dalam sidang di seluruh dunia.

 

Jangan dulu melukai sampai

semua hamba Allah selesai dimeteraikan

 

Yahya Pewahyu mengatakan: “Maka aku tampak seorang malaikat lain naik dari sebelah timur, membawakan meterai dari Allah yang hidup; maka berteriaklah ia dengan suara keras kepada empat malaikat itu yang telah diberi kuasa untuk melukai bumi dan lautan.  Katanya: Jangan dulu melukai bumi, ataupun lautan, ataupun pohon-pohon kayu sampai kami selesai memeteraikan hamba-hamba Allah kita pada dahi-dahi mereka. Maka aku dengar angka bilangan mereka yang dimeteraikan itu: maka telah dimeteraikan seratus empat puluh empat ribu dari s e l u r u h  suku-suku bani Israel.”--- Wahyu 7 : 2 – 4.

 

Malaikat di dalam buku Wahyu melambangkan dua objek.  Malaikat yang berteriak melambangkan pekabaran dari sorga. Contohnya ialah pekabaran dari malaikat yang pertama sampai dengan yang ketiga dari Wahyu 14 : 6 – 9,  dan pekabaran dari malaikat Wahyu 18 : 1.  Malaikat yang diam melambangkan para pemimpin. Contoh:  Malaikat dari sidang jemaat Laodikea yang melambangkan para pendeta dan lain-lain.

 

Malaikat yang naik dari sebelah timur itu melambangkan pekabaran mengenai pemeteraian 144.000 hamba-hamba Allah, yang diperoleh Nyonya White dalam khayalnya yang pertama di kota Portland, Amerika Serikat sebelah timur. Pekabaran itulah yang masih harus digabungkan dengan pekabaran Malaikat Wahyu 18 : 1 dari Houteff, baharu permasalahan 144.000 hamba-hamba Allah yang akan datang itu menjadi jelas. Jadi dapatlah dimengerti, bahwa setelah datang Houteff dalam tahun 1929 dengan pekabaran malaikat Wahyu 18 : 1 nya itu bergabung dengan pekabaran malaikat yang ketiga dari Nyonya White, maka sejak itulah masa pemeteraian itu dimulai. Kita kini masih berada dalam masa pemeteraian itu dan dalam masa pemeteraian yang masih berlangsung sekarang ini, akan ada kelak suatu pekerjaan penghabisan bagi sidang jemaat Laodikea kita,  yaitu  pembubuhan tanda kelepasan pada dahi orang-orang yang kini sedang berkeluh kesah dan berteriak melawan berbagai perbuatan keji di dalam gereja-gereja kita. Kemudian menyusul pembantaian sebagaimana yang dinubuatkan pada Jehezkiel pasal 9 dan Wahyu pasal 7.

 

  Pemeteraian dan Pembantaian

adalah Pekerjaan Penghabisan bagi Sidang

 

Karena masa pemeteraian itu dimulai sejak tahun 1929, sejak pekabaran perihal pemeteraian 144.000 hamba-hamba Allah itu mulai diberitakan kepada kita, maka pada sesuatu saat kelak sebentar lagi, masa pemeteraian itupun akan berakhir. Lalu kemudian menyusul pembantaian yang sangat mengerikan itu. Pembantaian itulah yang oleh hamba Tuhan secara serius telah diamarkannya kepada kita sebagai berikut :

 

Pelajarilah Jehezkiel pasal 9. Semua perkataan itu akan digenapi sebagaimana yang tertulis (secara literal). Namun waktu terus berlalu, dan orang banyak itu terus tidur. Mereka menolak merendahkan jiwanya dan tidak mau bertobat. Tidak berapa lama lagi Tuhan akan menahan sabar terhadap orang-orang itu, yang telah memiliki kebenaran-kebenaran penting yang sedemikian luasnya yang telah diungkapkan kepada mereka, tetapi mereka menolak membawakan kebenaran-kebenaran ini ke dalam pengalaman-pengalaman pribadinya. Waktunya sudah singkat. Allah sedang memanggil; maukah engkau mendengar? Maukah engkau menyambut pekabaranNya? Maukah engkau bertobat sebelum terlalu terlambat? Segera, sangat segera, setiap perkara akan diputuskan untuk kekal selama-lamanya.” – Letter 106, 1909, pp. 2, 3, 5, 7. (Kepada gereja-gereja di Oakland dan Berkeley, September 26, 1909).” --- Manuscript Releases, vol. 1, p. 260.

 

Artinya, semua yang diancamkan kepada kita di dalam nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu akan benar-benar jadi sedemikian itu. Hari itu akan benar-benar mengerikan bagi mereka yang masih saja mau melalaikan berbagai kesempatan yang masih terbuka.

 

Saudara! Kita kini masih berada dalam masa pemeteraian itu. Masa pemeteraian itu adalah sangat singkat, dan akan segera berakhir. Demikian kata hamba Tuhan. Oleh sebab itu berhati-hatilah, bahwa setelah pekabaran malaikat Wahyu 18 : 1 itu menggabungkan suaranya dengan pekabaran malaikat yang ketiga, dan menghasilkan terang besar yang menerangi bumi, yang dimulai di dalam gereja-gereja kita, maka sesungguhnya sudah tidak ada lagi alasan bagi siapapun juga untuk mengatakan:  S a y a  b e l u m   m e n g e r t i  !  Untuk inilah hamba Tuhan memperingatkan :

 

“Kebenaran-kebenaran yang luas yang perlu bagi penyelamatan umat telah dibuat jelas bagaikan siang tengah hari, maka tidak seorangpun akan keliru dan kehilangan jalannya, terkecuali mereka yang mengikuti penilaiannya sendiri sebagai gantinya mengikuti kehendak Allah yang sudah terungkap dengan jelas.”5 Testimonies For The Church, p. 331.

 

Pembantaian dari Nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu berkaitan dengan berbagai nubuatan lainnya

 

Pembantaian dari nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu ternyata akan merupakan satu-satunya peristiwa besar dan terakhir di dalam sidang Tuhan Allah yang akan datang. Itu adalah peristiwa besar penyucian sidang jemaat Laodikea, sebagai hasil dari proses pengadilan yang telah berlangsung di dalam kaabah kesucian sorga semenjak dari tahun 1844 yang lalu. Itu adalah hasil dari sidang pengadilan tahap kedua yang dimulai di bumi ini terhadap semua umat Masehi Advent Hari Ketujuh yang masih hidup.

 

Karena ada banyak nubuatan dan perumpamaan Jesus yang meramalkan berbagai peristiwa penting yang berkaitan dengan nasib umat Allah yang akan datang, maka tak dapat tiada peristiwa besar pembantaian dari nubuatan Jehezkiel pasal 9 itupun akan juga tampak dari beberapa nubuatan dan perumpamaan lainnya. Beberapa dari antaranya dapat kami kemukakan sebagai berikut : 

  1. Pembantaian dari Jehezkiel pasal 9 itu berkaitan juga dengan nubuatan dari Wahyu pasal 7 : 3, yaitu pembantaian yang terjadi setelah 144.000 umat Allah itu dibubuhi meterai tanda kelepasan pada dahi-dahi mereka.
  2. Pembantaian itu juga yang berkaitan dengan nubuatan Maleakhi 3 : 2 yang menanyakan : ‘Siapakah yang dapat tahan berdiri?’ Karena mereka yang tidak dapat tahan berdiri itulah yang akan terkena bantai. 
  3. Pembantaian yang sama dari Jehezkiel pasal 9 itu juga yang dinubuatkan pada Jesaya 66 : 16, 17.  
  4. Pembantaian yang sama dari Jehezkiel itu juga yang diramalkan pada Wahyu 12 : 15, 16. Artinya, orang-orang jahat yang dilambangkan oleh air semburan naga yang begitu banyak, sehingga telah menghanyutkan sidang Tuhan Allah atau perempuan itu; air-air itulah yang akan ditelan oleh bumi, atau tegasnya, d i b a n t a i   h a b i s.   
  5. Pembantaian dari Jehezkiel pasal 9 itu juga yang akan digenapi pada kegenapan dari Matius 25 : 13, karena kedatangan Anak Manusia pada waktu itu kelak bagaikan pencuri pada malam hari, sehingga semua mereka yang tidak bersedia akan kelak tercuri nyawanya.

Hamba Tuhan Nyonya White memperingatkan :

 

“Hari pembalasan Allah sudah ada di depan kita. Meterai Allah itu akan ditempatkan pada dahi dari h a n y a mereka yang berkeluh-kesah dan berteriak karena sebab berbagai kekejian yang dibuat di dalam negeri. ….. T i d a k   s e m u a  yang mengaku memelihara Sabat akan dimeteraikan. Ada banyak, bahkan di antara mereka yang mengajarkan kebenaran kepada orang-orang lain, mereka itu tidak akan memperoleh meterai Allah pada dahinya.” – Testimony Treasures, vol. 2, pp. 67, 68.   

“Tetapi hari-hari penyucian sidang itu sedang mendekat dengan cepatnya. Allah hendak memiliki suatu umat yang s u c i dan b e n a r.” – Testimonies For The Church, vol. 5, p. 80.
 

W a s p a d a l a h    S a u d a r a  !

 

Hamba Tuhan memperingatkan :


“Banyak yang menganggap berbagai ancaman di dalam Alkitab itu telah dibuat seolah-olah hanya untuk menakut-nakuti manusia supaya patuh, dan bukan untuk digenapi sebagaimana yang tertulis. Dengan demikian orang berdosa dapat hidup dalam keplesiran yang mementingkan dirinya sendiri, tanpa menghiraukan berbagai tuntutan dari Allah, sekalipun tetap juga berharap akan kelak pada akhirnya diterima ke dalam kasih Tuhan. Doktrin yang sedemikian itu yang menaruh harap pada hanya karunia Allah, tetapi melalaikan keadilan-Nya  akan memuaskan hati yang jahat, dan membesarkan hati orang-orang  jahat dalam  kejahatan mereka..”--- The Great Controversy, p. 537.

 

Saudara! Jangan lagi mau diombang-ambingkan oleh para penghotbah yang telah mempraktikkan diri mereka sendiri sebagai nabi-nabi palsu, yang sedang dengan gigihnya memperdaya kita dengan mengatakan, bahwa berbagai ancaman dari nubuatan-nubuatan Jehezkiel pasal 9 dan Wahyu pasal 7 itu tak mungkin dapat diterapkan, sebab Kristus tidak akan sekejam itu. Nubuatan-nubuatan itu sesungguhnya sudah diungkapkan sendiri oleh Kristus kepada para hamba-Nya, Nyonya Ellen G. White dan Sdr. Victor T. Houteff di dalam ROH  NUBUATAN. Oleh  sebab itu, demi keadilan, maka semua perkataan  nubuatan itu sudah p a s t i  dan mengikat, sehingga tidak  dapat ditawar-tawar lagi.

 

Jadi untuk ringkasnya, maka ingatlah selalu bahwa :

 

[1]  Nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu adalah benar-benar dialamatkan kepada umat Allah di akhir zaman, dan sudah diungkapkan pengertiannya oleh Nyonya White dan Victor T. Houteff sebagai nabi-nabi Wasiat Baru di akhir zaman. Oleh karena,“ Sesungguhnya Tuhan Allah tidak akan berbuat apapun s e b e l u m  mengungkapkan  r a h a s i a – N y a  kepada para hamba-Nya, yaitu n a b i – n a b i.” — Amos 3 : 7, maka  sebab itu berhati-hatilah terhadap nabi-nabi palsu yang mencoba memutar-balikkan pengertian dari nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu dalam kaitannya dengan Wahyu pasal 7 : 4  di atas.

 

[2]  Tuhan Allah sendiri telah menegaskan, bahwa Israel yang sisa itu ialah i s i rumah Israel dan Jehuda, yaitu dua belas suku bangsa bani Israel, yang akan terkena bantai. Karena semenjak dari buku Jehezkiel itu ditulis sampai kepada hari ini, isi rumah Israel dan Jehuda (dua belas suku bangsa) sudah tidak lagi u t u h dikenal sebagai umat Allah, maka nubuatan Jehezkiel pasal 9 itu tak dapat tiada ditujukan h a n y a kepada umat Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai contoh saingannya.

 

[3]  Apabila giliran Saudara dan saya tiba untuk diadili pada sidang pengadilan orang hidup yang akan datang, maka nubuatan Jehezkiel pasal 9 di atas akan benar-benar diberlakukan di antara kita. Setelah mereka 144.000 itu dibubuhi meterai tanda kelepasannya pada dahi-dahi mereka, dan setelah masa kesusahan Jakub itu berlalu, maka akan segera menyusul pembantaian itu. Hamba Tuhan Houteff mengatakan :

 

“Semua yang akan ditemukan sebagai anggota sidang p a d a kegenapan dari Jehezkiel pasal 9 itu akan kelak menerima meterai lalu menjadi bagian dari mereka 144.000 itu,  a t a u sebaliknya akan dibiarkan di luar lalu jatuh ke bawah senjata-senjata pembantai dari kelima orang itu. Hanya orang-orang yang berkeluh-kesah dan berteriak  karena sebab semua kekejian  di dalam s i d a n g  yang akan l u p u t  dari pembinasaan itu.” – The Symbolic Code, Vol. 1 No. 11, 12, p. 9.

 

 

*  *  *  *