I M A N

 YANG MEMBENARKAN

 

 

Jika bahan mengenai p e m b e n a r a n (oleh iman) itu sekali lenyap, maka s e m u a  ajaran Kristen akan lenyap.”

--- Luther on Galatians, p. 136 ---

 

 

Salah  satu  pokok  doktrin  Alkitab  yang  paling  mendasar  adalah doktrin mengenai   “I m a n.“ Iman dalam pengertian Alkitab adalah sama sekali berbeda dan sangat bertentangan dengan iman dalam pengertian masyarakat pada umumnya. Iman adalah sama dengan percaya. Namun dalam kehidupan beragama, orang  akan  lebih  banyak menggunakan istilah   “i m a n“ daripada percaya, sebab iman memiliki pengertian yang  jauh  lebih  luas daripada hanya sekedar percaya.

 

            Dalam kehidupan beragama yang benar, ”i m a n“ itu berfungsi untuk membenarkan pelakunya di hadapan Allah. Itulah sebabnya, maka hamba Tuhan Martin Luther sebagai Bapa Reformasi Protestan telah memulai pergerakan reformasinya dalam sejarah yang lalu dengan pokok doktrinnya yang berjudul : ‘ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN’, atau biasanya juga dikenal dengan sebutan, ‘PEMBENARAN OLEH IMAN.’

 

            Jika Martin Luther dikenal sebagai Bapa Reformasi Protestan, yang telah menghidupkan kembali ajaran mengenai i m a n yang benar itu, dengan cara memulihkan kembali Alkitab, yang telah digelapkan dan dinyatakan sebagai buku terlarang oleh penguasa Romawi Katholik selama lebih kurang seribu tahun sebelumnya, dalam zaman kegelapan agama yang lalu, maka IBRAHIM telah dinyatakan sebagai Bapa dari semua orang beriman di bumi ini. Saudara dan saya dapat saja digolongkan sebagai anak-anak Ibrahim, bukan karena memiliki garis keturunan dari IBRAHIM, melainkan hanya karena memiliki i m a n  yang s a m a  dengan-nya.

 

            Iman yang membenarkan itu sesungguhnya bukan lagi hal yang baru bagi kita, sebab sejak di zaman rasul-rasulpun permasalahan iman sudah banyak dibicarakan di dalam Injil Wasiat Baru. Namun setelah umat Kristen mengalami aniaya yang cukup panjang di bawah penindasan dari Romawi Katholik selama zaman kegelapan agama yang lalu, maka “i m a n” dalam pengertiannya yang sebenarnya tampaknya sudah banyak dilupakan orang. Itulah sebabnya, maka hamba Tuhan Martin Luther telah ditugaskan, bukan hanya untuk memulihkan dan menerjemahkan Alkitab itu bagi kita melainkan yang utama sekali untuk memulihkan pemahaman perihal iman  yang benar itu di antara semua umat Allah.

 

            Pemahaman terhadap iman Kristen yang benar ternyata belum banyak dimiliki oleh orang-orang yang mengakui dirinya Kristen sampai kepada hari ini. Itulah sebabnya, maka setelah ditinggal mati oleh Luther, Gereja Protestan asuhannya itu sebagai sidang jemaat milik Tuhan Allah, tidak lagi utuh dapat dipertahankan sampai kepada hari ini. Sebab apa ?  Hamba Tuhan menuliskannya sebagai berikut :

   

“Masa periode yang berbeda-beda dalam sejarah s i d a n g, masing-masingnya ditandai oleh berkembangnya  beberapa k e b e n a r a n  k h u s u s, yang disesuaikan kepada berbagai kebutuhan umat Allah di  waktu itu. Masuknya setiap  k e b e n a r a n   b a - r u  selalu  berhadapan dengan tantangan dan kebencian. Orang-orang yang diberkahi oleh terangnya dicobai dan diuji. Tuhan memberikan suatu kebenaran khusus bagi umat dalam sesuatu keadaan darurat. Siapakah yang berani menolak  menyebarkannya ?”The Great Controversy, p. 609.

 

            Oleh datangnya beberapa pokok doktrin Alkitab yang baru atau kebenaran baru, yang satu menyusul yang lainnya, menyusul Luther dengan pokok doktrinnya tentang ‘ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN’ itu, maka dunia Kristen kemudian telah pecah menjadi sedikit-dikitnya e n a m Gereja Kristen yang utama, yaitu : Gereja Protestan, Gereja Presbyterian, Gereja Methodist, Gereja Baptist, Gereja Advent Hari Pertama, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Bahkan dari ke-enam Gereja Kristen yang utama itupun telah muncul keluar lebih kurang dua ratus sekte agama Kristen sampai di akhir zaman ini. Sekalian mereka itu sama-sama mengakui dirinya memiliki i m a n Kristen yang benar karena telah memiliki Alkitab yang sama sebagai landasan imannya, dan sama-sama mengakui Kristus sebagai Juruselamatnya.

 

Landasan dari Iman yang benar

 

            Iman adalah sama dengan percaya.  Mempercayai  apa ?  Apakah yang harus dipercayai atau di i m a n i ?  Yang harus dipercayai atau diimani itu tak lain adalah Alkitab saja. Alkitab itulah yang berisikan Firman Allah, yaitu berbagai norma dan peraturan-peraturan hukum dari Tuhan Allah, yang berguna untuk mempertahankan suatu kehidupan beragama yang tertib di bumi ini, yang sesuai dengan kehendak Tuhan Allah sebagai Khalik Penciptanya. Alkitab itulah yang harus menjadi landasan iman umat Allah di waktu ini.  Tetapi bagaimanakah caranya untuk dapat memahami seluruh i s i Alkitab itu, untuk kemudian mematuhi sekaliannya itu dengan  benar ? Hamba Tuhan Musa sebagai ahli hukum dan ahli sejarah kejadian dunia, telah dikenal sebagai penulis Alkitab yang pertama. Di dalam bukunya Ulangan 29 : 29 ia mengatakan :

 

Perkara-perkara yang rahasia itu adalah bagi milik Tuhan Allah kita; tetapi perkara-perkara yang diungkapkan itu adalah bagi kita dan bagi anak cucu kita sampai selama-lamanya, s u p a y a  dapatlah kita m e l a k s a n a k a n  s e m u a  perkataan dari Hukum Torat  ini.Ulangan 29 : 29.

 

            Sebagai ahli hukum nabi Musa telah membagi Alkitab itu ke dalam dua bagian yang utama. Bagian pertama berisikan Sepuluh Perintah dari Hukum Dasar Torat, dan selebihnya ialah Bagian yang berisikan perkara-perkara yang diungkapkan semenjak dari zaman Musa sampai kepada semua anak-cucunya di akhir zaman ini. Perkara-perkara yang diungkapkan semenjak dari zaman Musa sampai di akhir zaman ini, akan merupakan peraturan-peraturan pelaksanaan, “s u p a y a  dapatlah kita m e l a k s a n a k a n  s e m u a  perkataan dari Hukum Torat ini.Ulangan 29 : 29. Demikianlah penegasannya di atas.

 

            Dari nubuatan Zakharia pasal 4 yang sudah terungkap pengertiannya di akhir zaman ini kiranya sudah dapat dipahami, bahwa Alkitab itu setelah ditemukan kembali oleh Luther dalam abad ke XV yang lalu, maka iaitu secara bertahap telah diungkapkan kembali kepada hamba-hamba Tuhan berikut ini : Martin Luther, John Knox, John Wesley, Alexander Campbell, William Miller, Nyonya White, dan terakhir Sdr. Victor T. Houteff. Dengan demikian, maka seluruh Alkitab itu sesungguhnya sudah habis terungkap pengertiannya ke dalam ROH NUBUATAN di akhir zaman ini.

 

            Ciri-ciri kerohanian dari umat Allah di akhir zaman dapat kita temukan pada ucapan rasul Yahya Pewahyu di dalam bukunya Wahyu 12 : 17 dan Wahyu 19 : 10 bagian akhir, yang berbunyi sebagai berikut :

 

“Maka naiklah amarah naga akan perempuan itu, lalu pergi memerangi yang tersisa daripada benihnya, yaitu mereka yang memeliharakan Perintah-Perintah Allah, dan memiliki Kesaksian Jesus Kristus.”“………Sembahlah Allah, karena Kesaksian Jesus Kristus itu ialah ROH NUBUATAN.”Wahyu 12 : 17 ; 19 : 10 bag. akhir.

 

            Perempuan dari nubuatan Wahyu 12 di atas melambangkan umat Allah atau Sidang Jemaat milik Allah. Anak dari perempuan itu melambangkan Kristus, sebab Kristus telah dilahirkan oleh perempuan yang melambangkan Gereja Yahudi. Benih keturunannya melambangkan orang-orang Kristen, maka yang tersisa daripada orang-orang Kristen yang hidup itu tak dapat tiada dimaksudkan kepada semua umat Allah yang hidup di akhir zaman. Mereka itu dikenal oleh ciri-ciri kerohaniannya yang menonjol, yaitu pemelihara Sepuluh Perintah Allah dari Hukum Dasar Torat dan pemilik dari ROH NUBUATAN. Jadi jelaslah, bahwa mereka itulah umat Allah di akhir zaman ini karena landasan daripada i m a n n y a  adalah Hukum Allah dan Kesaksian Jesus Kristus atau ROH NUBUATAN itu.  Untuk inilah hamba Tuhan Nyonya White mengingatkan :

 

“Ada banyak orang yang mengaku memiliki i m a n, tetapi bagaimanakah dapat kita ketahui bahwa i m a n n y a  itu murni ? Tuhan telah memberikan kepada kita suatu alat penguji oleh mana dapat kita menguji pengakuan kita maupun pengakuan dari orang lain. Nabi itu mengatakan : ‘Akan Hukum Torat dan akan Kesaksian jika mereka berkata-kata tidak sesuai dengan perkataan ini, maka iaitu disebabkan karena tidak terdapat t e r a n g  dalam mereka.” Review and Herald, vol. 2, p. 513.

 

            Melalui nubuatan dari nabi Yesaya, kepada kita telah ditegaskan, bahwa Hukum Dasar Torat dan Kesaksian atau Kesaksian Jesus Kristus yang telah berkembang menjadi ROH NUBUATAN di akhir zaman akan menjadi alat penguji bagi semua ucapan kita. Karena hanya itulah yang merupakan l a n d a s a n  iman kita.

 

I m a n Yang Benar selalu

dimanifestasikan dalam kepatuhan kepada

s e m u a Peraturan Hukum yang berlaku

 

Hamba Tuhan Nyonya White mengatakan :

        

            “I m a n yang murni akan dinyatakan dalam berbagai perbuatan yang baik karena perbuatan-perbuatan yang baik adalah buah-buah dari I m a n.” – 1 Selected Messages, p. 397.

 

            Karena iman tanpa diikuti perbuatan adalah sia-sia, maka iman yang benar itu akan selalu dimanifestasikan dalam berbagai kepatuhan kepada s e m u a ketentuan hukum yang tersedia di dalam ROH NUBUATAN.  T i d a k s a t u p u n ketentuan hukum di dalam ROH NUBUATAN boleh dilalaikan ataupun dilanggar, sebab iaitu akan berarti melanggar hukum atau dosa. Iman yang dimanifestasikan dalam kepatuhan yang tidak lengkap kepada seluruh ketentuan ROH NUBUATAN, tidak akan membenarkan pelakunya di hadapan Tuhan.

 

            Sesudah hamba Tuhan Martin Luther mengumandangkan doktrin, “ORANG BENAR HIDUP OLEH IMAN” atau “PEMBENARAN OLEH IMAN” semenjak dari tahun 1500 an yang lalu, dan sesudah terbukti bahwa faham terhadap iman yang membenarkan itu makin hari makin memudar saja sampai kepada hari ini, maka kembali Tuhan Allah menugaskan kepada Pendeta Waggoner dan Pendeta Jones untuk memberitakan kembali pokok doktrin itu di General Conference of SDA tahun 1888 yang bersidang di kota Minneapolis, Minnesota, di Amerika Serikat, bagi kita umat Masehi Advent Hari Ketujuh. Untuk itulah hamba Tuhan Nyonya White menuliskannya sebagai brikut :

 

“Tuhan dalam kemurahan-Nya yang besar telah mengirim sebuah pekabaran yang sangat berharga kepada umat-Nya, oleh perantaraan Pendeta Waggoner dan Pendeta Jones. Pekabaran ini akan menghantarkan dengan lebih mencolok lagi kepada dunia Juruselamat yang ditinggikan itu, yaitu Korban bagi dosa-dosa seluruh dunia. Iaitu menyajikan pembenaran  melalui i m a n dalam Dia yang Pasti itu. Iaitu mengundang orang-orang untuk menerima pembenaran Kristus, yang akan dimanifestasikan dalam kepatuhan kepada  s e- m u a  p e r i n t a h – p e r i n t a h  Allah. Banyak orang sudah kehilangan pandangannya pada Jesus. ……… Inilah pekabaran yang diperintahkan  Allah  untuk  diberikan kepada  dunia. Inilah  pekabaran m a l a i k a t   y a n g  k e t i g a  itu, yang akan diberitakan dengan sebuah seruan keras, dan akan dihadiri oleh curahan Roh-Nya dalam jumlah besar………

 

“Bertahun-tahun lamanya sidang terus memandang kepada manusia, dan mengharapkan banyak dari manusia, tetapi tidak memandang kepada Jesus, dimana semua harapan kita akan kehidupan yang kekal itu terpusat. Oleh sebab itu Allah  memberikan kepada hamba-hamba-Nya sebuah kesaksian yang menyajikan kebenaran itu sebagaimana halnya dalam Kristus, yaitu pekabaran malaikat yang ketiga itu, dalam berbagai penggarisan yang jelas dan nyata.” Testimonies to Ministers, pp. 91, 92, 93.

 

Pekabaran Malaikat Yang Ketiga ialah Roh Nubuatan dari Nyonya White, yang meliputi juga pekabaran Pembenaran oleh Iman.

Mengapakah Iaitu selalu dilalaikan ?

 

            Pekabaran malaikat yang ketiga ialah pekabaran tiga malaikat yang dinubuatkan pada Wahyu 14 : 6 – 9.  Karena setiap terang baru yang datang t i d a k  m e n i a d a k a n  terang yang mendahuluinya, maka demikian itulah pekabaran malaikat yang ketiga tidak akan meniadakan pekabaran malaikat yang pertama dan kedua. Ketiga pekabaran malaikat dari Wahyu 14 : 6 – 9 itu kini ditemukan di dalam buku-buku Roh Nubuatan dari Nyonya White.

 

            Kemudian karena Nyonya White sendiri telah muncul dalam sejarah sebagai reformator yang ke-enam sesudah Martin Luther, maka pekabaran malaikat yang ketiga atau Roh Nubuatannya itupun tidak akan meniadakan pekabaran Pembenaran oleh Iman dari Luther, melainkan sebaliknya akan bergabung bersama-sama. Itulah sebabnya, maka pekabaran pembenaran oleh Iman itu, baik yang dibawakan oleh Luther maupun yang diberitakan kembali oleh Pendeta-Pendeta Waggoner dan Jones, telah dinyatakan oleh hamba Tuhan Nyonya White sebagai bagian dari pekabaran malaikat yang ketiga. Tetapi bagaimanakah sambutan para Penguasa di General Conference of SDA terhadap pekabaran itu ?   Hamba Tuhan mengatakan :

 

“Keengganan untuk melepaskan pendapat-pendapat yang berprasangka lalu menyambut kebenaran ini, melandasi sebagian besar p e n o l a k a n  yang dimanifestasikan di Minneapolis melawan pekabaran dari Tuhan melalui perantaraan Saudara-Saudara Waggoner dan Jones. Oleh merangsang penolakan itu Setan telah berhasil menyingkirkan daripada umat kita kuasa istimewa dari Roh Suci dalam jumlah besar, yang ingin diberikan Allah kepada mereka. …….Terang itu yang akan menerangi seluruh bumi dengan kemuliaannya telah  d i t o l a k , dan oleh tindakan dari saudara-saudara kita sendiri iaitu dalam jumlah besarnya telah dihalangi dari dunia.”1 Selected Messages, p. 234, 235.

 

“Berbagai prasangka dan pendapat yang menguasai pertemuan di Minneapolis itu bagaimanapun tidak mati. Benih-benih yang ditabur di dalam hati sebagian orang di sana siap untuk hidup berkembang dan membawakan hasil-hasil yang sama. Pucuk-pucuknya sudah ditebang, tetapi a k a r – a k a r n y a tidak pernah habis dimusnahkan, dan sekaliannya itu masih akan mengeluarkan buahnya yang tidak suci, yang meracuni penilaian, mengacaukan penglihatan, dan membutakan pengertian orang-orang yang engkau hubungi, berkenan dengan pekabaran itu serta jurukabarnya.”Testimonies to Ministers, p. 467.

   

            Jadi, jelaslah bahwa pekabaran Pembenaran oleh iman itu b e l u m p e r n a h disambut dan diterima oleh para penguasa General Conference of SDA dan semua pendetanya sampai kepada hari ini. Kita tentunya akan bertanya, mengapa Pekabaran Pembenaran oleh Iman itu masih saja dilalaikan sampai kepada hari ini ? Untuk inilah hamba Tuhan Nyonya White sebagai suara Allah kembali menegaskan sebagai berikut:

 

“Bertahun-tahun lamanya s i d a n g terus memandang kepada manusia, dan mengharapkan banyak dari manusia, tetapi tidak memandang kepada Jesus, dimana semua harapan kita akan kehidupan yang kekal itu terpusat. Oleh sebab itu Allah memberikan kepada hamba-hamba-Nya sebuah kesaksian yang menyajikan kebenaran itu sebagaimana halnya dalam Kristus, yaitu pekabaran malaikat yang ketiga itu, dalam berbagai penggarisan yang jelas dan nyata.” Testimonies to Ministers, pp. 91, 92, 93.

 

            Adalah karena sidang Tuhan Allah atau umat-Nya selama bertahun-tahun lamanya terus saja memandang dan menaruh harap pada p e n d e t a dan berbagai ucapan kata-kata mereka (dan bukan pada Jesus dan Kebenaran-Nya), maka Tuhan Allah telah menugaskan hamba-hamba-Nya Waggoner dan Jones untuk memberitakan kembali Pekabaran Pembenaran oleh Iman itu bagi kita sebagai bagian dari Pekabaran Malaikat Yang Ketiga. Tetapi bagaimanakah sambutan umat Masehi Advent Hari Ketujuh terhadap pekabaran itu selama ini ?

 

            Sebagian besar pendeta mungkin saja telah mengatakan, bahwa pekabaran ‘Pembenaran oleh Iman’ itu sudah lama diterima, namun pada kenyataannya iaitu sama sekali belum  dimanifestasikan dalam kepatuhan kepada  s e m u a  p e r i n t a h – p e r i n t a h  Allah. (Bahkan  justru), ‘Banyak orang sudah kehilangan pandangannya pada Jesus. ………’

 

            Semua perintah-perintah Allah itu terdapat pada Sepuluh Perintah dari Hukum Dasar Torat. Sekaliannya itulah yang telah selengkapnya diinterpretasikan kembali sampai dengan di akhir zaman ini ke dalam ROH NUBUATAN. Oleh sebab itu, hendaklah dimengerti bahwa kelalaian umat Masehi Advent Hari Ketujuh kita untuk mematuhi seluruh ROH NUBUATAN itu sampai kepada hari ini membuktikan bahwa ‘Banyak orang sudah kehilangan pandangannya pada Jesus. ………’ Hamba Tuhan Nyonya White selanjutnya mengatakan :

 

“Doktrin mengenai pembenaran oleh iman itu sudah lenyap dari penglihatan banyak orang yang mengaku percaya pada pekabaran malaikat yang ketiga (orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh).– Review and Herald, August 13, 1889. (Dalam kurung dari penulis)

 

Hanya ada

s a t u Tuhan, s a t u  I m a n, s a t u Baptisan

(Epesus 4 : 5)

 

            Ucapan rasul Paulus di atas ini sangat membesarkan hati kita sebagai umat Advent, sebab kita semua kini berada di dalam GEREJA yang sama, yaitu Sidang Jemaat Laodikea. Kita sama-sama telah memiliki Tuhan yang sama, iman yang sama, dan baptisan yang sama. Namun dengan adanya berbagai pengertian yang berbeda-beda sedang mendominasi umat kita di akhir dunia sekarang ini, maka apa yang diucapkan rasul Paulus di atas sesungguhnya tidak lagi jelas tampak dalam pelaksanaannya. Satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan adalah tiga faktor penentu yang tidak terpisahkan bagi penyelamatan kita. Oleh sebab itu, apabila pemahaman kita terhadap satu saja dari ketiga faktor penyelamat itu kurang atau tidak lengkap daripada yang sepatutnya, maka berantakanlah seluruh peribadatan kita kepada Allah. Untuk itulah, maka kami mencoba membicarakannya kembali di bawah ini.

 

1.   S a t u   T u h a n  :

            Tuhan yang dimaksud di sini tak dapat tiada adalah Jesus Kristus, Juruselamat kita. Karena kita tidak mungkin dapat berhubungan langsung dengan Jesus, maka satu-satunya yang mewakili Dia berhubungan dengan kita adalah FIRMAN-NYA. Untuk itulah rasul Yahya mengatakan :

 

            “Pada mula pertama ada FIRMAN, maka FIRMAN itu berada bersama-sama dengan ALLAH, dan FIRMAN itulah ALLAH. ………. Maka FIRMAN itu sudah dibuat menjadi manusia, lalu tinggal di antara kita, (dan kita telah memandang kemuliaan-NYA, yaitu bagaikan kemuliaan dari anak sulung dari BAPA), yang penuh karunia dan kebenaran.”Yahya 1 : 1, 14.

 

            Sekembali Jesus ke sorga dalam tahun 31 TM yang lalu, maka sejak itu hanya FIRMAN-NYA yang mewakili DIA di bumi ini untuk berhubungan dengan umat-Nya. FIRMAN yang dimaksud ialah FIRMAN yang dikenal sejak mula pertama kejadian dunia. Jadi, bukan hanya FIRMAN yang dikenal di zaman Musa, atau yang dikenal di zaman nabi Daud, ataupun yang dikenal di zaman rasul-rasul yang lalu, melainkan seluruh FIRMAN yang dikenal sampai dengan di akhir zaman ini. Tegasnya, seluruh FIRMAN semenjak dari buku-buku Tulisan Musa, sampai dengan buku Wahyu, berikut seluruh interpretasi nubuatan dari buku Daniel, buku Wahyu, dan dari  berbagai  nubuatan  para nabi Wasiat Lama, dan perumpamaan-perumpamaan Jesus, yang keseluruhannya terdapat di dalam ROH NUBUATAN (dari Nyonya White dan Sdr. Houteff). Jadi, hendaklah dipahami, bahwa Alkitab dan ROH NUBUATAN itulah yang kini sedang mewakili Jesus Kristus di antara kita. Dan h a n y a  itulah  satu-satunya TUHAN  bagi kita.

 

            Karena belum ada satu nubuatanpun yang berhasil terungkap dengan benar dan meyakinkan di dalam seluruh GEREJA kita Masehi Advent Hari Ketujuh, maka dapatlah dibayangkan betapa hampanya pengetahuan kita terhadap satu-satunya TUHAN  itu.

 

2.   S a t u  I m a n :

            I m a n yang benar akan selalu tampak dari landasannya yang lengkap, yaitu  a p a  yang diimani atau yang dipercayai. Landasan dari iman yang benar tak lain adalah Jesus sendiri. DIA-lah satu-satunya TUHAN kita, kepada Siapa kita percaya dan berharap. DIA-lah yang di akhir zaman ini sedang diwakili oleh Alkitab dan ROH NUBUATAN untuk berhubungan dengan kita. Tetapi bagaimanakah kenyataannya selama ini ? Hamba Tuhan mengatakan :

 

“Bertahun-tahun lamanya s i d a n g terus memandang kepada manusia, dan mengharapkan banyak dari manusia, tetapi tidak memandang kepada Jesus, dimana semua harapan kita akan kehidupan yang kekal itu terpusat.” Testimonies to Ministers, pp. 91, 92, 93.

 

“Ada banyak orang yang h a n y a memiliki i m a n d a s a r  saja, namun iman ini tidak akan menyelamatkan anda. Banyak orang percaya pada Kristus karena ada seseorang yang percaya, karena p e n d e t a  telah mengajarkan kepada mereka i n i atau i t u; namun jika anda menggantungkan  i m a n m u  hanya pada perkataan  p e n d e t a, maka anda akan hilang. Janganlah berbuat seperti yang dilakukan oleh anak-anak dara yang bodoh itu ……..” Review and Herald, vol. 2, p. 335.

 

“Kondisi s i d a n g  p a d a   w a k t u   i n i  diperlihatkan dalam kata-kata Juruselamat  di dalam Wahyu : ‘Engkau memiliki sebuah n a m a bahwa engkau hidup, padahal engkau sudah  m a t i.’”The Great Controversy, p. 309.

 

            Artinya, bertahun-tahun lamanya sidang terus saja memandang dan berharap (beriman) kepada malaikat sidang jemaat Laodikea atau General Conference of SDA dan para pendetanya, tetapi tidak beriman pada Jesus, satu-satunya TUHAN kita itu, dimana semua harapan kita akan kehidupan yang kekal terpusat. Bertahun-tahun lamanya sidang terus saja bergantung pada hotbah-hotbah dan buku-buku Sekolah Sabat yang sudah sangat tidak bermutu kerohaniannya, sementara berbagai seruan dari ROH NUBUATAN yang disampaikan kepadanya terus saja dilalaikan dan ditolak. Banyak orang ternyata tidak pernah  lagi  beranjak  naik  daripada  hanya  i m a n  d a -s a r  yang dimilikinya sewaktu dibaptis. Demikian itulah keadaannya, mengapa GEREJA kita kini praktis telah dikuasai sepenuhnya oleh anak-anak dara yang bodoh itu, yaitu para pendeta.

 

3.  S a t u   B a p t i s a n  :

“Kristus telah membuat baptisan menjadi tanda masuk ke dalam kerajaan kerohanian-Nya. Ini telah dibuat-Nya menjadi suatu persyaratan yang pasti dengan mana semua orang harus mengikutinya, yaitu setiap orang yang ingin diakui berada di bawah kekuasaan BAPA, ANAK, dan ROH SUCI. Sebelum orang dapat menemukan suatu tempat tinggal di dalam sidang, sebelum ia melewati ambang pintu kerajaan kerohanian Allah, ia harus terlebih dulu memperoleh c a p  nama Ilahi, yaitu “TUHAN PEMBENARAN KITA.”  Jeremiah 23 : 6.”6 Testimonies for the Church, p. 91.

 

            Baptisan merupakan tanda masuk ke dalam kerajaan Allah. Melalui baptisan yang benar, maka orang akan memperoleh statusnya yang baru sebagai warga kerajaan Allah di bumi ini.  Jadi, untuk menjadi umat Allah atau warga kerajaan-Nya di bumi ini kita harus terlebih dulu sepenuhnya bertobat, baharu kemudian menyerahkan diri untuk dibaptis. Hamba Tuhan Nyonya White memperingatkan :

 

            “Tidak ada ujian masuk kemuridan (discipleship) yang digunakan sedemikian saksama seperti yang h a r u s  digunakan terhadap orang-orang yang menyerahkan diri kepada baptisan. Hendaknya dimengerti apakah mereka itu hanya memakai nama Masehi Advent Hari Ketujuh, ataukah mereka sedang mengambil tempat berdiri pada pihak Tuhan, untuk keluar dari duniawi dan berpisah, lalu tidak menjamah pekara yang keji.”6 Testimonies, p. 95.

 

            Sekalipun sudah sepenuhnya bertobat pada waktu dibaptis, namun selama masih tinggal di bumi ini kita tak dapat tiada masih akan seringkali kembali jatuh berdosa. Namun oleh perantaraan nabi Solaiman, Tuhan Allah berfirman : “Karena orang benar (warga kerajaan) itu jatuh tujuh kali, lalu bangun  kembali; tetapi orang jahat akan jatuh ke dalam celaka.” – Amzal Solaiman 24 : 16.

 

            Bertobat ternyata merupakan satu-satunya persyaratan yang utama bagi setiap calon untuk dapat dibaptis. Sejauh manakah pertobatan kita pada waktu dibaptis ? Marilah kita belajar dari pengalaman Nicodemus yang telah dipersiapkan sendiri oleh Jesus bagi baptisannya. Hamba Tuhan menuliskannya sebagai berikut :

 

            “Pada waktu Nicodemus, guru besar di Israel itu datang kepada Jesus, maka Tuhan telah menyajikan kepadanya semua syarat kehidupan yang suci, sambil mengajarkan kepadanya urut-urutan pertobatan yang sebenarnya itu dari (A) sampai (Z).”6 Testimonies, p. 154.

 

            “Tugas bagi akhir zaman ini adalah suatu tugas pengabaran Injil. Mengemukakan kebenaran mulai dari huruf pertama urut-urutan abjadnya (A) sampai kepada huruf terakhir (Z) berarti usaha penginjilan.”Counsels on Health, p. 300.

 

            Jika Injil yang diajarkan Jesus kepada Nicodemus dahulu baharu hanya sebatas Injil dari Wasiat Lama saja, maka tidaklah demikian halnya di akhir zaman ini. Pengabaran Injil di waktu ini adalah meluputi seluruh Injil, yaitu seluruh ketentuan Hukum Kerajaan Sorga yang berlaku di akhir zaman. Ini akan meliputi seluruh i s i Alkitab berikut semua interpretasi Ilhamnya di dalam ROH NUBUATAN.  Inilah yang terlukis dalam khayal kepada nabi Zakharia di dalam bukunya Zakharia pasal 4. bagi kita.

 

Buah dari ROH SUCI  ialah I M A N,

Buah dari  I M A N ialah Berbagai Perbuatan yang Baik

 

            “Tetapi buah dari ROH ialah kasih, suka cita, kedamaian, panjang sabar, kemurahan, kebaikan, i m a n, lemah lembut/rendah hati, pertarakan. Tidak ada hukum yang bertentangan dengan sekaliannya itu.” Galati 5 : 22, 23.

 

            “I m a n yang murni akan dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, karena perbuatan-perbuatan yang baik itulah buah-buah dari I m a n.”1 Selected Messages, p. 397.

 

            Sesudah Jesus kembali ke sorga dalam tahun 31 TM yang lalu, maka IA telah menugaskan ROH SUCI-NYA untuk meneruskan missi penyelamatan-Nya di bumi ini. Terhalang oleh tubuh-Nya yang masih terdiri dari daging dan darah, Ia tidak mungkin dapat mencapai semua orang yang akan diselamatkan-Nya. Oleh sebab itu, maka telah ditugaskan-Nya ke bumi ini ROH SUCI untuk menggantikan-Nya. Dan untuk itulah Ia mengatakan sebagai berikut :

 

            Tetapi apabila Ia, ROH KEBENARAN, itu datang, Ia akan menghantarkan kamu ke dalam s e g a l a  kebenaran; karena Ia tidak akan berbicara dari dirinya sendiri, melainkan apa saja yang kelak didengarnya (dari JESUS), itulah yang akan dibicarakannya; maka Ia akan menunjukkan kepadamu segala perkara yang akan datang.” – Yahya 16 : 13 (dalam kurung dari penulis).

 

Namun pada kenyataannya Jesus juga telah diwakili oleh Firman-Nya sendiri, sebab Yahya juga mengatakan bahwa, “Pada mula pertama ada FIRMAN, maka FIRMAN itu berada bersama-sama dengan ALLAH, dan FIRMAN itulah ALLAH. ………. Maka FIRMAN itu sudah dibuat  menjadi manusia, lalu tinggal di antara kita, (dan kita telah memandang kemuliaan-NYA, yaitu bagaikan kemuliaan dari anak sulung dari BAPA), yang penuh karunia dan kebenaran.”Yahya 1 : 1, 14.

 

            Jadi jelaslah bagi kita bahwa ROH SUCI dan FIRMAN akan bersama-sama tinggal di dalam pribadi masing-masing kita sebagai umat Allah. Selama kebenaran Injil yang dibawa oleh ROH SUCI itu tidak ditolak atau dilalaikan, maka selama itu pula ROH SUCI akan menetap di dalam pribadi kita, lalu akan membuahkan,‘ kasih, suka cita, kedamaian, panjang sabar, kemurahan,  kebaikan,  i m a n,  lemah  lembut / rendah  hati,  dan  pertarakan’. Kemudian  dari  i m a n  itu sendiri akan muncul lagi berbagai buah-buah perbuatan yang baik. Buah-buah perbuatan yang baik itu tak dapat tiada akan tampak dari berbagai bukti kepatuhan kita pada Hukum Allah dan semua peraturan pelaksanaannya di dalam ROH NUBUATAN. Hanya itulah buah-buah perbuatan yang baik dalam pengertian Alkitab.

 

            Karena landasan dari i m a n  yang benar itu ialah Hukum Allah (Hukum Torat) dan peraturan-peraturan pelaksanaannya di dalam ROH NUBUATAN, maka klasifikasi dari semua buah-buah perbuatan yang baik itu secara garis besarnya akan tampak pada gambar bagan  berikut di bawah ini.

 

 

Tetapi bagaimanakah sebaliknya, apabila kita tidak mau dihantarkan oleh ROH SUCI ke dalam sesuatu kebenaran baru untuk sampai ke dalam s e g a l a kebenaran Injil ? Dan bagaimanakah akibatnya apabila kita tidak mau segala perkara yang akan datang diungkapkan kepada kita oleh ROH SUCI ? Bagaimanakah akibatnya apabila berbagai nubuatan dan perumpamaan Jesus, yang meramalkan nasib hari depan kita, terus saja ditolak pengungkapannya oleh ROH SUCI bagi kita?  Hamba Tuhan sejak lama telah mengingatkan :

 

“Jangan seorangpun berkesimpulan, bahwa tidak ada lagi k e b e n a r a n yang akan diungkapkan. Pencari kebenaran yang rajin dan penuh doa akan menemukan sinar-sinar terang yang berharga yang masih akan terbit dari firman Allah. Masih banyak mutiara yang tercecer yang akan dikumpulkan untuk menjadi milik umat Allah yang sisa.”Counsels on Sabbath School Work, p. 34  (1892).

 

“K e b e n a r a n  ialah kebenaran yang terus berkembang, maka kita harus berjalan dalam terang yang terus meningkat.” – Counsels to Writers and Editors, p. 33.

 

“Tidak ada maaf bagi setiap orang yang mengambil pendirian bahwa tidak ada lagi kebenaran yang akan diungkapkan, dan bahwa semua pengungkapan Alkitab kita itu adalah tanpa salah. Kenyataan bahwa ajaran-ajaran tertentu telah dianut sebagai kebenaran selama bertahun-tahun oleh umat kita, adalah bukan suatu bukti bahwa berbagai pendapat kita itu adalah benar. Zaman tidak akan merubah kekeliruan menjadi kebenaran.”Counsels to Writers and Editors, p. 35.

 

Diselamatkan oleh Karunia, Dibenarkan oleh I m a n

 

“Karena sedemikian rupa Allah mengasihi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Putera tunggal-Nya itu, supaya barangsiapa percaya pada-Nya (believeth in Him) tidak akan binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.”Yahya 3 : 16.

 

            Dosa ialah pelanggaran Hukum, dan upah dosa ialah m a u t. Adam dan Hawa adalah manusia-manusia pelanggar Hukum yang pertama sekali di bumi ini. Hamba Tuhan mengatakan bahwa Adam dan Hawa pada saat kejadiannya sudah mengetahui akan hukum Allah yang asli itu. Ia itu telah dicetak pada hati mereka, maka kepada mereka telah diperkenalkan berbagai tuntututan hukum atas diri merekaReview & Herald, April 29, 1875. Kepada Adam Tuhan Allah memerintahkan sebagai berikut :

 

“Dari setiap pohon di dalam taman engkau dapat memakannya dengan sebebasmu. Tetapi dari pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat itu janganlah kamu makan daripadanya, karena pada h a r i (in the day) engkau makan daripadanya engkau akan p a s t i  m a t i.”Kejadian 2 : 16, 17.

 

            “Mati” yang diucapkan Allah kepada Adam itu ialah sanksi hukum yang pasti, yaitu kematian yang kekal, atau juga dikenal sebagai kematian yang kedua. Iaitu bukan kematian yang kita alami selama ini. Namun pada kenyataannya setelah Adam dan Hawa berdosa karena memakan dari buah pohon yang terlarang itu, mereka tidak jadi mati. Mereka justru telah dibiarkan hidup sampai beberapa ratus tahun lagi kemudian. Adam bahkan sampai mencapai 950 tahun kemudian usianya. Hamba Tuhan mengatakan :

      

“Adam mendengar pada perkataan dari penggoda itu, lalu tunduk kepada hasutannya, lalu jatuh berdosa. Mengapakah hukuman maut tidak segera ditegakkan dalam perkaranya itu ? ….. Sebab suatu tebusan telah ditemukan. Putera tunggal Allah secara sukarela akan memikul dosa manusia pada diri-Nya, lalu melakukan suatu tebusan bagi umat manusia yang sudah jatuh.  Tidak akan mungkin ada pengampunan apapun bagi dosa, kalau saja penebusan ini tidak dibuat.”Review and Herald, April 23, 1901.

 

            Sekalipun hukuman mati tidak secepatnya dikenakan pada hari kejatuhan mereka, namun secepatnya pada hari itu juga mereka sudah dikeluarkan dari Eden. Dapatlah dimengerti, sebab setelah berdosa mereka sudah akan membutuhkan makan sedikit-dikitnya dua kali sehari. Padahal mereka tidak lagi diperkenankan makan dari pohon-pohon kehidupan yang ada, sebab mereka tidak lagi diperkenankan terus hidup kekal dalam dosa-dosanya.

 

            Penyelamatan oleh karunia itu ternyata tidak langsung membawa kembali mereka ke dalam Eden, melainkan hanya untuk menunda hukuman mati mereka selama sesuatu masa kasihan tertentu bagi masing-masingnya untuk bertobat. Itulah sebabnya, maka kepada Adam telah diberikan perpanjangan umurnya sampai mencapai 950 tahun. Dan selama itulah dia dianjurkan untuk membangun percayanya (imannya) pada Jesus supaya tidak binasa kelak dalam kematian kekal yang akan datang. Demikian itulah, maka segera setelah kejatuhan mereka dalam dosa, kepada mereka lalu diperintahkan untuk melaksanakan upacara kurban bakaran di atas medzbah, yang melambangkan kematian Jesus, Anak Domba Allah, yang telah dikorbankan bagi penebusan dosa-dosa manusia. Dalam cara inilah Tuhan Allah telah memperkenalkan Jesus  kepada mereka sebagai Juruselamatnya.

      

Penyelamatan oleh karunia adalah bukan untuk membawa kita masuk langsung ke sorga, melainkan justru untuk pertama sekali memperkenalkan kepada kita Jesus dan ROH NUBUATANNYA, untuk memungkinkan kita membangun iman yang menyelamatkan itu. Marilah kita belajar dari pengalaman Adam dan isterinya di bawah  ini:

 

            “Sesudah Adam dan Hawa berdosa mereka tidak lagi tinggal di Eden. Mereka secara sungguh-sungguh telah memohon agar mereka dapat kembali tinggal di rumahnya itu sewaktu mereka masih suci dan gembira. Mereka mengakui bahwa mereka telah merampas semua hak bagi tempat tinggal yang berbahagia itu, namun mereka sendiri berjanji bagi masa depannya, bahwa mereka akan menyerahkan kepatuhannya yang ketat kepada Allah. Tetapi  kepada mereka diberitahukan bahwa keadaan mereka telah menjadi lemah karena dosa, mereka telah mengecilkan kekuatannya  untuk melawan kejahatan, dan telah membuka jalan bagi Setan untuk dengan cepat memperoleh jalan masuk ke mereka.  Dalam keadaan mereka yang tidak berdosa mereka telah tunduk kepada godaan; maka kini dalam keadaan sadar akan kesalahannya, mereka sudah akan lebih lemah untuk mempertahankan pendiriannya.

 

            “Dalam kesederhanaan dan kekecewaan yang tak terbilang mereka terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada rumah tinggal mereka yang indah menawan itu, lalu pergi keluar untuk tinggal di bumi, dimana kutuk dosa berada. Suasana yang tadinya begitu menyenangkan dengan suhu yang merata di sana sini, kini ternyata sangat berubah-ubah, maka Tuhan dalam kemurahan-Nya yang begitu besar telah memberikan kepada mereka pakaian yang terbuat dari kulit binatang bagi pelindung  dari udara panas dan dingin yang sangat menyengat.

 

            “Sementara mereka menyaksikan kembang-kembang yang merunduk dan daun-daunan yang runtuh  pertama sekali memperlihatkan tanda-tanda membusuk, maka Adam dan rekannya  lalu menangis dan meratap sejadi-jadinya, jauh melebihi tangisan orang-orang di waktu ini  yang meratapi kekasihnya yang meninggal dunia. Kematian kembang-kembang yang lemah dan halus itu benar-benar merupakan penyebab kesedihan yang dalam ; tetapi setelah pohon-pohon kayu yang bagus-bagus melepaskan daun-daunan mereka, maka gambaran itu secara jelas masuk  ke dalam pikiran kenyataan yang tegas, bahwa kematian akan menjadi bagian dari setiap perkara yang  hidup.

 

            “Taman Eden itu tetap berada di bumi l a m a  sesudah manusia menjadi orang yang terbuang keluar daripada lorong-lorongnya yang menyenangkan itu. Manusia yang berdosa cukup lama diijinkan untuk memandang pada rumah tempat tinggal orang-orang yang tidak berdosa itu, semua jalan masuknya dihalangi hanya oleh malaikat-malaikat penjaga. Pada pintu gerbang Firdaus yang dijaga oleh malaikat cherubim di sana  kemuliaan ilahi dinyatakan. Ke sanalah Adam dan anak-anaknya datang untuk menyembah Allah. Di sanalah mereka memperbaharui kembali janji-janji setianya kepada h u k u m, yang karena dilanggarnya telah mengusir keluar mereka dari Eden. Sewaktu gelombang kejahatan menyebar kesana sini menutupi dunia, dan kejahatan manusia sampai kepada penentuan akan kebinasaan mereka oleh sesuatu air bah, maka tangan yang telah menanamkan Eden itu kemudian menariknya kembali dari bumi. Namun pada pemulihan yang terakhir, apabila kelak akan ada “suatu langit yang baru dan sebuah bumi yang baru” (Wahyu 21 : 1), maka iaitu akan dikembalikan lagi dalam keadaan yang lebih mulia dihiasi daripada pada mula pertama yang lalu.” – Patriarchs and Prophets, pp. 61 -  62.

 

Membangun I m a n dalam Jesus Kristus

 

            Karena telah diselamatkan oleh karunia, maka kita semua masih hidup sampai kepada saat ini. Namun, bukan saja untuk hidup bebas semaunya kita, melainkan supaya kita kembali berdamai dengan Allah di dalam sidang jemaat-Nya, di dalam GEREJA Masehi Advent Hari Ketujuh, khususnya di dalam kelas lima anak dara yang bijaksana atau kelas gandum itu. Hanya  di sinilah kepada kita diberi kesempatan untuk “percaya pada-Nya (Jesus) supaya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.” – Yahya 3 : 16. Karena hanya di sinilah landasan dari iman yang berupa Alkitab dan ROH NUBUATAN itu dapat ditemukan.

 

            Percaya pada Jesus, atau beriman dalam Jesus Kristus di waktu ini, tidak lagi dapat dicapai dengan hanya bergantung pada hotbah-hotbah dan pelajaran-pelajaran Sekolah Sabat, sebab terbukti sekaliannya itu tidak lagi membicarakan satupun nubuatan Alkitab yang mengungkapkan n a s i b hari depan kita sebagai umat Allah. Hamba Tuhan telah memperingatkan :

 

            “Kepada saya telah ditunjukkan bahwa dengan hanya menyucikan Sabat dan berdoa pagi dan malam b e l u m  merupakan bukti-bukti yang pasti bahwa kita adalah orang-orang Kristen.  Bentuk-bentuk yang tampak dari luar ini dapat saja sekaliannya dipatuhi dengan ketat, namun peribadatan yang sesungguhnya itu belum ada.” – Testimonies, Vol. 1, p. 305.

 

            “Ada banyak orang yang mengakui Kristus, tetapi mereka tidak pernah menjadi orang-orang Kristen yang d e w a s a.”2 Review and Herald, p. 403.

 

P e m b e n a r a n oleh I m a n

 

Setelah mengikuti berbagai ulasan di atas, maka kita akan mengikuti selanjutnya berbagai ucapan hamba Tuhan di bawah ini dengan pemahaman yang lebih baik.

 

(1) I m a n

“I m a n yang membawa kepada keselamatan bukanlah suatu iman yang bersifat kebetulan, iaitu bukan hanya  sekedar yang disetujui pikiran. Itu adalah percaya yang berakar di dalam hati, yang merangkul Kristus sebagai Juruselamat pribadi, yakni bahwa IA dapat menyelamatkan sampai kepada semua orang yang datang kepada Allah melalui DIA.” – 1 Selected Messages, p. 391. 

 

“I m a n  adalah satu-satunya prasyarat oleh mana p e m b e n a r a n  dapat diperoleh, maka iman tidak saja berarti percaya melainkan juga meliputi b e r h a r a p.” – 1 Selected Messages, p. 389.

 

“K e b e n a r a n ialah kebenaran yang terus berkembang, maka kita harus berjalan dalam t e r a n g  yang terus meningkat.” – Counsels to Writers and Editors, p. 33.

 

Catatan :  Landasan dari iman ialah kebenaran. Karena kebenaran terus meningkat, maka imanpun tak dapat tiada harus meningkat. Akibatnya, penurutan atau perbuatan akan bertambah.

 

“Barangsiapa yang menunggu sampai s e l u r u h  pengetahuan (kebenaran) dimiliki baharu mau ia melaksanakan i m a n n y a, ia tidak akan memperoleh berkat dari Allah.” – Gospel Workers, p. 260.

 

“I m a n  harus dibuat sempurna melalui perbuatan, karena iman saja adalah mati. Iman harus ditunjang oleh perbuatan. Iman yang hidup selalu dinyatakan oleh p e r b u a t a n.” – 1 Testimonies, p. 620.

 

“I m a n  yang murni akan dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, karena perbuatan-perbuatan yang baik adalah buah-buah dari iman. Sebagaimana Allah bekerja di dalam hati (pikir), dan manusia menyerahkan kemauannya kepada Allah sambil bekerjasama dengan-Nya, maka ia melakukan di dalam hidupnya a p a  yang Allah kerjakan di dalamnya oleh Roh Suci, sehingga akan terdapat keseragaman di antara maksud hati dan praktik kehidupan. Setiap dosa harus dilawan sebagai hal yang dibenci, yang telah menyalibkan Tuhan kehidupan dan kemuliaan; maka orang percaya harus memiliki pengalaman yang t e r u s  m a j u  oleh terus menerus melaksanakan semua pekerjaan Kristus. Adalah oleh terus menerus menyerahkan kemauan o l e h  p e n u r u - t a n  yang berkesinambungan, maka berkat pembenaran oleh iman itu akan dapat dipertahankan.” – 1 Selected Messages, p. 397.

 

Kesimpulan : I m a n  adalah bukan sesuatu percaya dan penurutan yang bersifat kebetulan. Iman membutuhkan suatu proses yang panjang yang meliputi seluruh hayat hidup kita. Demikian itulah Roh Suci akan tinggal di dalam pribadi kita. Sekaliannya itu akan menetap di dalam kita selama kita tidak menolak sesuatu t e r a n g yang ditawarkan kepada kita. Iman yang sedemikian inilah yang akan membawa kepada keselamatan. “Kristus tinggal di dalam hati oleh iman, maka oleh kerjasama dengan ilahi kemampuan manusia akan menjadi bermanfaat bagi kebaikan.”Desire of Ages, p. 297.

 

(2) Pembenaran

P e m b e n a r a n  ialah p e n g a m p u n a n  d o s a  yang penuh dan lengkap.  Segera seseorang berdosa menerima Kristus oleh i m a n, maka pada saat itu juga ia diampuni. Kebenaran Kristus dimasukkan kepadanya, maka ia tidak lagi meragukan karunia pengampunan Allah.” – EGW SDA Bible Commentary, vol. 7 – A, p. 295.

 

“Pengampunan dan pembenaran adalah s a t u, dan merupakan masalah yang s a m a. Melalui i m a n  orang percaya beralih daripada statusnya sebagai seorang durhaka, anak dari dosa dan Iblis, kepada status pengikut Jesus Kristus yang setia, bukan karena asal kebaikannya, melainkan karena Kristus menerimanya sebagai anak angkat-Nya. Orang berdosa memperoleh pengampunan dosanya karena dosa-dosa itu dipikul oleh PENGGANTI dan PENJAMIN-nya.” – Sda. p. 294.

 

Catatan :  Segera seseorang mulai beriman dalam Kristus, maka segera pula semua dosanya diampuni. Pengertian ini baharu akan benar-benar terlaksana setelah dibaptis, sebab “Kristus telah menjadikan baptisan itu suatu tanda masuk ke dalam kerajaan kerohanian-Nya.” – 6 Testimonies, p. 91.

 

Tetapi  i m a n  yang umumnya dimiliki di waktu ini baharu hanya “…….. I m a n   d a s a r, namun iman ini tidak akan menyelamatkan anda. Banyak orang percaya pada Kristus karena ada seseorang yang percaya, karena p e n d e t a  telah mengajarkan kepada mereka i n i  atau i t u ; namun jika anda menggantungkan imanmu hanya pada perkataan p e n d e-   t a, maka anda akan hilang. Janganlah berbuat seperti yang dilakukan oleh anak-anak dara yang bodoh itu.” --- Review and Herald, vol. 2, p. 335.

 

Semua yang diajarkan oleh p e n d e t a selama ini baharu merupakan i m a n  d a s a r, padahal iman itu harus berkembang dari (A) ---- sampai ---- (Z). Dengan hanya iman dasar, maka pembenaran yang diperoleh pada waktu dibaptis tidak akan dapat dipertahankan, maka kita akan jatuh kembali dalam dosa melawan Roh Suci.

 

M E N G U J I  I M A N

 

            Iman ialah percaya yang diikuti perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah bukan iman dalam pengertian Alkitab. Jadi, untuk menguji i m a n seseorang, cukuplah diuji apakah perbuatan orang itu sesuai dengan berbagai ketentuan di dalam Hukum Torat dan ROH NUBUATAN  yang ada. Namun orang mungkin akan bertanya :  Mengapa berkat pembenaran itu dikaruniakan karena iman, dan bukan karena p e r b u a t a n ?  Bukankah justru perbuatan yang mencerminkan benar tidaknya sesuatu iman ?  Rasul Paulus menuliskannya sebagai berikut:

 

“Kini bagi dia yang bekerja tersedia upah yang diperhitungkan b u k a n  sebagai hadiah, melainkan sebagai hutang. Tetapi kepada dia yang tidak bekerja,  tetapi  p e r c a y a  pada   D i a yang membenarkan orang-orang durhaka, i m a n n y a  diperhitungkan bagi pembenaran.” – Rum 4 : 4, 5.

 

            Rasul Paulus mengatakan bahwa setiap pekerjaan atau perbuatan berhak memperoleh kontra prestasi atau balas jasa. Tetapi berkat pembenaran dari Kristus itu bukan sesuatu balas jasa, melainkan suatu k a r u n i a  atau hadiah yang diberikan kepada orang-orang yang percaya dan berharap pada Kristus, yang membuktikan percayanya itu dalam penurutan kepada semua hukum-Nya. Demikian itulah, maka berkat pembenaran itu dikaruniakan karena  i m a n (percaya + perbuatan), dan bukan  karena perbuatan saja.

 

            Sekalipun setiap perbuatan itu berasal dari keyakinan atau percaya, namun tidak semua perbuatan itu merupakan buah-buah dari iman. Hamba Tuhan mengatakan :

 

            “Kata malaikat itu : ‘P e r a s a a n  adalah b u k a n  iman. I m a n  ialah h a n y a  berpegang pada Allah sesuai firman-Nya.” “Banyak dari kita berjalan menurut pemandangan matanya, dan b u k a n  oleh iman. Kita percaya akan perkara-perkara yang tampak, tetapi tidak menyukai janji-janji yang berharga yang diberikan kepada kita di dalam firman Allah.”  1 Testimonies, p. 620; 1 Selected Messages, p. 350.

 

            Dengan hanya memiliki “i m a n  d a s a r“ pada waktu dibaptis, maka sebagian besar umat kita tidak lagi beranjak naik daripada iman dasarnya. Mereka selanjutnya berjalan hanya menurut pemandangan matanya. Lalu beriman berlandaskan h a n y a pada p e r a s a a n  semata. Mereka sudah cukup m e r a s a berbahagia berada di bawah nama besar dari ORGANISASI GEREJA MAHK, yang sudah termashur namanya karena kebesaran dan kekayaannya berupa rumah-rumah sakit, lembaga-lembaga pendidikan tinggi, bangunan-bangunan megah yang tersebar luas di berbagai negara. Sementara mereka terus memandang dan berharap pada para pendeta, mereka juga mengakui dirinya memiliki iman yang benar. Namun hamba Tuhan mengatakan :

 

            “Bertahun-tahun lamanya s i d a n g terus memandang kepada manusia, dan mengharapkan banyak dari manusia, tetapi tidak memandang kepada Jesus, dimana semua harapan kita akan kehidupan yang kekal itu terpusat. Oleh sebab itu Allah  memberikan kepada hamba-hamba-Nya sebuah kesaksian yang menyajikan kebenaran itu sebagaimana halnya dalam Kristus, yaitu pekabaran malaikat yang ketiga itu, dalam berbagai penggarisan yang  jelas dan  nyata.” Testimonies to Ministers, pp. 91, 92, 93.

 

            Ada banyak orang yang mengaku memiliki i m a n, tetapi bagaimanakah dapat kita ketahui bahwa imannya itu murni ? Tuhan telah memberikan kepada kita suatu alat penguji oleh mana dapat kita menguji pengakuan kita maupun pengakuan dari orang lain. Nabi itu mengatakan : ‘Akan hukum Torat dan akan Kesaksian jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, maka itu disebabkan karena tidak terdapat t e r a n g  dalam mereka.” – 2 Review and Herald, p. 513.

 

            Sebagai umat Allah yang hidup di akhir dunia ini, kita hendaknya mengerti bahwa seluruh ‘Kesaksian’ itu sudah selengkapnya berkembang dan terungkap di dalam ROH NUBUATAN, yang terdiri dari pekabaran malaikat yang ketiga dari Nyonya White dan pekabaran malaikat Wahyu 18 : 1 dari Houteff. Kedua pekabaran itulah yang telah bergabung menjadi s a t u menghasilkan terang besar yang menerangi bumi, dimulai di dalam GEREJA kita Masehi Advent Hari Ketujuh.  Dan itulah ROH  NUBUATAN yang tersedia h a n y a  di dalam Sidang Jemaat Laodikea atau GEREJA MAHK kita.

 

            Nabi Yesaya sejak dahulu telah menubuatkan : “Akan hukum Torat dan akan Kesaksian jika mereka berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, maka itu disebabkan karena tidak terdapat terang dalam mereka.”— Yesaya 8 : 20.  Ucapannya itulah yang benar-benar berlaku di akhir dunia ini. Dan ‘Kesaksian’ itulah yang berisikan berbagai peraturan pelaksanaan dari Hukum Dasar Torat yang kini terdapat di dalam ROH NUBUATAN. Hanya inilah satu-satunya alat untuk menguji iman kita, maka hamba Tuhan Nyonya White selanjutnya mengatakan :

 

“Torat dan Kesaksian Jesus itu sedang menguji kita. Jika kita setia dan patuh, maka Allah akan berkenan terhadap kita, lalu memberkati kita sebagai umat pilihan-Nya  sendiri yang istimewa.” --- 1 Testimony Treasures, p. 288.

 

K e s i m p u l a n  A k h i r

 

          “Kristus telah datang ke bumi ini dan menghayati suatu hidup kepatuhan yang sempurna, agar supaya pria dan wanita oleh perantaraan rahmat-Nya dapat juga menghayati hidup kepatuhan yang sempurna. Ini adalah perlu bagi keselamatan mereka. Tanpa k e s u - c i a n, maka tidak seorangpun akan dapat melihat Tuhan.”Review and Herald, vol. 5, p. 222.

 

            “Semua persiapan kita bagi sorga harus sudah l e n g k a p di sini. Apabila Kristus datang tabiat kita t i d a k akan diobahkan. Tubuh-tubuh yang kotor ini akan diobahkan dan dibentuk sesuai kesamaan tubuh-Nya yang mulia, tetapi tidak akan ada perubahan m o r a l  yang akan dilakukan d a l a m  kita pada w a k t u  i t u.-- Review and Herald, vol. 2, p. 236.

 

“Ingatlah, bahwa pembangunan tabiat tidak akan selesai sampai kepada akhir hayat.”In heavenly Places, p. 226.

 

            “Pekerjaan persiapan ialah suatu usaha pribadi. Kita tidak akan selamat secara berkelompok-kelompok. Kemurnian dan penyerahan diri seseorang tidak dapat menebus kekurangan kwalitas-kwalitas ini pada orang lain.”Review and Herald, vol. 5, p. 184.

 

            “Tuhan bekerjasama dengan kemauan dan kegiatan manusia sebagai perantara. Inilah kesempatan dan kewajiban setiap orang untuk berpegang pada Allah melalui firman-Nya, untuk percaya pada Jesus sebagai Juruselamat pribadinya, dan untuk menyambut dengan penuh kesungguhan secepatnya ajaran-ajaran kemurahan yang dibuat-Nya. Ia  h a r u s  b e l a j a r (dari A – sampai — Z)  untuk (m e n g e r t i  dan) p e r c a - y a, lalu m e m a t u h i  petunjuk ilahi di dalam Alkitab. Ia harus melandaskan i m a n n y a  bukan pada p e r a s a a n, melainkan pada kenyataan dari Firman Allah.”EGW. Bible Commentary, vol. 7, p. 928 (Dalam kurung dari penulis).

 

            “Ada sesuatu jalan yang tampaknya b e n a r bagi seseorang, namun ujung akhirnya adalah jalan-jalan kematian.”Amzal Solaiman 16 : 25.

 

          “I m a n dalam sesuatu kepalsuan  tidak akan memiliki pengaruh penyucian bagi kehidupan ataupun tabiat. Tidak ada kesalahan yang dapat disebut k e b e n a r a n, ataupun dapat dibuat menjadi k e b e n a r a n  dengan cara terus menerus diulang-ulang, atau dengan jalan beriman di dalamnya. Kejujuran tidak pernah dapat menyelamatkan jiwa daripada akibat mempercayai sesuatu kesalahan. Tanpa kejujuran tidak akan terdapat peribadatan yang benar, tetapi kejujuran dalam peribadatan yang palsu tidak pernah dapat menyelamatkan manusia. Saya mungkin saja dengan sejujur-jujurnya mengikuti sesuatu jalan yang salah, tetapi itupun tak dapat merubah jalan itu menjadi jalan yang benar, ataupun dapat membawa saya ke tempat yang saya kehendaki. Tuhan tidak mengingini kita untuk memiliki kejujuran yang buta, lalu menyebutnya sebagai i m a n yang menyucikan.  K e b e n a r a n  adalah p r i n s i p  yang dapat menyucikan, maka olehnya itu wajib bagi kita  untuk mengetahui  a p a  kebenaran itu.” --- Selected Messages, Book 2,  p. 56 ---

 

          “Manusia berpegang pada kuasa Ilahi. Kristus tinggal di dalam hati oleh i m a n; maka oleh kerjasama dengan ilahi kemampuan manusia akan menjadi bermanfaat bagi k e b a i k a n.” Desire of Ages, p. 297.                                             

 

 

 

 

*  *  *